Macron Sebut Islam Alami Krisis Dinilai Bisa Berbalik Rugikan Prancis

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Sabtu, 03 Okt 2020 11:31 WIB
FILE - In this Tuesday, Jan. 24, 2017 file photo, French presidential candidate and former French Economy Minister Emmanuel Macron speaks during a press conference at the Government House, in downtown Beirut, Lebanon. French President Emmanuel Macron is traveling to Lebanon on Thursday Aug. 6, 2020, to offer support for the country after the massive, deadly explosion in Beirut. Lebanon is a former French protectorate and the countries retain close political and economic ties.  (AP Photo/Bilal Hussein, File)
Emmanuel Macron (AP Photo/Bilal Hussein, File)
Jakarta -

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut Islam sebagai agama yang sedang mengalami krisis di dunia saat ini. Pernyataan itu dinilai bisa berbalik dan merugikan negara Prancis.

Dalam pernyataannya, Macron menyebut pemerintah Prancis tengah mengajukan RUU yang mengizinkan orang-orang untuk menganut agama dan keyakinan apa pun yang mereka pilih, tapi menampilkan afiliasi agama di luar dalam keadaan apa pun tidak diizinkan di sekolah atau layanan publik.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Rezasyah menilai Macron perlu menjelaskan kembali pernyataannya itu. Pernyataan Macron itu, menurutnya, masih menimbulkan tanda tanya apakah aturan dalam RUU itu hanya ditujukan untuk umat Islam di Prancis.

"Di sinilah perlunya negosiasi ya, karena kalau aturan ini diterapkan secara keras, berarti lambang-lambang salib juga nggak boleh, kan. Terus lambang-lambang Yahudi juga nggak boleh. Terus apakah ini dimaksud pelarangan itu khusus untuk Islam saja? Karena agama di luar Islam juga punya simbol-simbol sendiri," kata Reza kepada wartawan, Sabtu (3/10/2020).

Jika Macron tidak memberikan klarifikasi, pernyataannya itu dinilai akan berbalik merugikan Prancis. Umat Islam di seluruh dunia, menurut Reza, bisa marah dan memboikot produk-produk dari Prancis.

"Jadi, kalau Macron tidak memberikan klarifikasi, dia akan dianggap sebagai anti-Islam. Kalau sudah begini, sangat berbahaya sekali bagi reputasi global Prancis, misalnya bisa saja negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam diam, tapi masyarakatnya memboikot produk Prancis," ujar Rezasyah.

"Kemudian juga masyarakat negara berkembang sekarang masih tenang-tenang saja kan, tapi bisa saja mereka nanti mengganggu gugat kepemimpinan Prancis di DK (Dewan Keamanan) PBB," imbuhnya.

Di sisi lain, Rezasyah mengatakan memahami 'strategi' yang tengah dimainkan oleh Macron untuk mendulang suara pada pemilu. Rezasyah menyinggung reaksi keras dari umat Islam di Prancis saat munculnya kasus pembuat karikatur Nabi Muhammad Charlie Hebdo.

"Dalam hal ini saya bisa mengerti karena saat ini ya Prancis itu gampang sekali digoyang dengan isu, bentar-bentar menggambarkan Islam secara tidak benar. Kemudian begitu muncul isu Charlie Hebdo, kemudian kelompok-kelompok garis keras langsung berhimpun menjadi satu. Mungkin kelompok-kelompok inilah yang ingin dirangkul oleh Macron, untuk ya... perlu suara, pemerintah Prancis perlu suara menjelang pilpres ini," ungkapnya.

Simak video 'Wamenag Sebut Greag Fealy Keliru Nilai Pemerintah Jokowi Anti-Islam':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2