Ke Anggota BEM Kampus di Jakarta, Ketua MPR Bicara Kebinekaan

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 21:26 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat mengisi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada Badan Koordinasi Nasional Forum Komunikasi Mahasiswa Kekaryaan (Bakornas Fokusmaker) dan Anggota BEM dari lima Universitas Jakarta secara virtual, dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Kamis (1/10/20).
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengisi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada Badan Koordinasi Nasional Forum Komunikasi Mahasiswa Kekaryaan (Bakornas Fokusmaker) dan Anggota BEM dari lima Universitas di Jakarta secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta. Di acara tersebut ia memaparkan empat alasan penting mengapa generasi muda perlu merawat kebinekaan.

Pertama, kata dia, karena keberagaman adalah fitrah kebangsaan yang tidak dapat diingkari dan pungkiri. Sejak bangsa Indonesia mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara yang hidup dalam kemajemukan budaya, suku, ras dan agama, sejak saat itulah konsep kebinekaan telah menyatukan semuanya dalam satu ikatan kebangsaan.

"Kedua, karena sesungguhnya perbedaan adalah sesuatu yang alamiah dan telah menjadi ketentuan ilahi. Allah menciptakan kita beraneka ragam. Bahkan bila berani jujur pada diri sendiri, dalam satu golongan yang sama pun, masih dapat kita temukan adanya perbedaan," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (1/10/2020).

Mantan Ketua DPR RI ini menambahkan alasan ketiga karena ancaman terhadap nilai-nilai kebinekaan sangat nyata. Dalam perjalanan sebagai sebuah bangsa, sikap intoleran terhadap keberagaman selalu mewarnai kehidupan kebangsaan. Misalnya pada saat berlangsungnya kontestasi politik yang terkadang memanfaatkan politik identitas sebagai alat perjuangan.

"Sebagai gambaran, dalam kurun waktu tahun 2014 hingga 2019, SETARA Institute mencatat terjadinya 846 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama. Artinya, rata-rata setiap bulan terjadi 14 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama. Ini adalah gambaran nyata bahwa penghormatan terhadap kebinekaan belum sepenuhnya dapat diwujudkan," jelas Bamsoet.

Kemudian alasan keempat, kata Bamsoet, dengan kemajemukan dan kondisi geografis serta kekayaan sumber daya alam yang menempatkan Indonesia sebagai 'center of gravity' komunitas global. Hal ini menjadikan bangsa Indonesia rapuh terhadap pengaruh dan infiltrasi asing. Maka penghormatan terhadap nilai kebinekaan dalam bingkai NKRI menjadi syarat mutlak untuk menjaga kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa.

"Gagasan Nawacita yang menjadi pondasi perjuangan Presiden Joko Widodo sejak memimpin Indonesia pada tahun 2014, pada hakikatnya adalah konsep jawaban atas berbagai problematika kebangsaan yang selama ini kita hadapi, salah satunya terkait merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa," ungkapnya.

"Gagasan Nawacita sendiri merupakan penjabaran dari Trisakti yang diambil dari buah pikiran Bung Karno, yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan," tutur Bamsoet.

Lebih lanjut, dia juga menjelaskan upaya merawat kebinekaan sangat jelas terlihat dari berbagai butir dalam Nawa Cita. Antara lain, menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Selain itu, menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya. Serta, melakukan revolusi karakter bangsa, serta memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Sebagai informasi, turut serta dalam acara tersebut antara lain Sekjen Bakornas Fokusmaker Azka Aufary Ramli, Ketua Presidium Mahasiswa Universitas Trisakti Dino Ardiansyah, Ketua BEM Universitas Krisnadwipayana Dwiki Hendra Saputra, Ketua BEM Universitas MH Thamrin AKA Geys Amar, dan Ketua BEM Universitas Muhammadiyah Ronaldo Zulfikar.

(prf/ega)