Perubahan Kebijakan Sektor Kesehatan Harus Diimbangi Implementasi Efisien

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 18:29 WIB
Lestari Moedijat
Foto: Dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menyebut langkah pemerintah mengubah strategi pembangunan kesehatan dari strategi kuratif menjadi promotif untuk mewujudkan peningkatan kualitas kesehatan patut didukung. Namun, harus diimbangi implementasi yang efektif, efisien, dan konsisten.

"Langkah pemerintah ke depan untuk mengubah strategi pembangunan kesehatan dari kuratif menjadi promotif patut didukung. Namun harus dicermati pada tataran implementasinya," kata Rerie, sapaan akrabnya, dalam ketetangannya, Selasa (29/9/2020).

Hal tersebut diungkapkannya menanggapi pernyataan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy yang mengatakan saat ini pemerintah mulai mengubah strategi pembangunan kesehatan dengan lebih mengutamakan langkah promotif dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Sebab menurut Rerie, dalam setiap kebijakan yang ada di negeri ini sering kali lemah dalam implementasinya.

"Sebaik apa pun program dan strategi pembangunan, tanpa pelaksanaan dan pengawasan yang baik akan sia-sia," ujarnya.

Pandemi COVID-19 yang kita hadapi saat ini, jelas Legislator Partai NasDem itu, mengingatkan semua pihak, termasuk pemerintah, bahwa kesehatan itu sangat mahal. Saat ini, semua pihak menyadari bahwa aspek pencegahan, lewat peningkatan kualitas kesehatan, jauh lebih penting daripada pengobatan.

Rerie berharap perubahan kebijakan di sektor kesehatan juga harus lebih berorientasi pada pemanfaatan sumber-sumber dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor obat-obatan dan alat kesehatan.

Secara umum, ungkap Rerie, di masa pandemi COVID-19 pemerintah harus mengubah beberapa target pembangunan nasional terutama pada sektor pembangunan manusia, yang saat ini lebih difokuskan pada penanganan COVID-19.

"Padahal aspek lain yang penting diperhatikan juga masih banyak. Antara lain penanganan stunting, penanganan penyakit Tuberculosis (TB) dan Demam Berdarah (DBD) yang jumlah pengidapnya terus bertambah setiap tahun," pungkasnya.

(mul/ega)