Epidemiolog Bicara Faktor-faktor Kematian Corona RI Masih Tinggi

Matius Alfons - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 07:50 WIB
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak
Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Pakar epidemiologi dari Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, turut menjelaskan penyebab rata-rata kematian akibat Corona di Indonesia melebihi rata-rata kematian dunia. Selain persoalan kesehatan masyarakat, Laura menilai pemeriksaan dini Corona di masyarakat masih rendah.

"Kalau masalah tingginya angka kematian COVID-19 di Indonesia mungkin ada beberapa faktor yang memengaruhi, yang paling utama mungkin kita bisa melihat kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. Karena COVID-19 ini pada umumnya memberikan dampak yang lebih berat dan kematian pada kelompok orang-orang yang dengan penyakit penyerta," kata Laura saat dihubungi, Senin (28/9/2020).

Kemudian Laura menjelaskan sebagian besar masyarakat terlambat memeriksakan diri saat pertama kali tertular Corona sehingga dirawat dalam kondisi berat. Karena itu, akhirnya tenaga kesehatan juga kesulitan menyembuhkan pasien tersebut.

"Selain itu, saya rasa banyak masyarakat kita yang datang ke RS dalam kondisi berat, artinya mungkin tingkat kesadaran untuk memeriksakan sejak dini sangat rendah. Ini yang mungkin membuat mempersulit para nakes untuk menyembuhkan dan berakibat fatal/kematian," ucapnya.

Laura pun menyebut cara untuk mengurangi dampak fatal kematian akibat virus Corona, yakni dengan mencari tahu penularan Corona secepat mungkin. Jadi, kata dia, tenaga kesehatan bisa mengantisipasi jika ada perubahan fatal pada pasien.

"Mungkin pemerintah lebih proaktif untuk bisa menemukan kasus sedini mungkin dan sebanyak mungkin walaupun pada kondisi tanpa gejala. Dengan ini ketika yang terjaring dalam kondisi tanpa gejala tetapi sebetulnya membawa virus, segera mendapatkan penanganan, yaitu isolasi dan monitoring dari nakes puskesmas jika melakukan isolasi mandiri. Dengan isolasi yang dilakukan, harapannya memang nakes akan bisa melakukan pemeriksaan rutin atas kondisi orang-orang yang terinfeksi dan bisa ditangani lebih cepat jika ada gejala-gejala dalam durasi isolasi," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengungkap kasus kematian akibat Corona di Indonesia sedikit lebih tinggi dari rata-rata dunia, di mana Indonesia mencapai 3,77 persen dan rata-rata kasus kematian Corona di dunia 3,01 persen. Hal inilah yang menjadi tugas pemerintah untuk menekan kasus kematian.

"Kalau kita bandingkan dengan bulan lalu, rata-rata kematian di negara kita juga menurun dari 4,33 persen jadi 3,77 persen. Meskipun kalau kita bandingkan dengan rata-rata dunia, kita sedikit lebih tinggi karena rata-rata dunia mencapai 3,01 persen. Ini menjadi tugas kita bersama untuk menekan lagi agar rata-rata kematian bisa terus menurun," kata Jokowi dalam rapat terbatas penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional secara virtual, Senin (28/9).

Simak juga video 'BPS: Kepatuhan Pakai Masker Meningkat, Cuci Tangan-Jaga Jarak Menurun':

[Gambas:Video 20detik]



(maa/gbr)