Round-Up

Ketika Usapan BIN Diragukan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 29 Sep 2020 07:36 WIB
Pegawai KPU dan para jurnalis mengikuti tes Swab COVID-19 di halaman kantor pusat KPU, Jakarta, Selasa (4/8/2020).Tes tersebut diselenggarakan oleh KPU bekerjasama dengan Badan Intelijen Negara (BIN).
BIN saat menggelar tes swab di KPU. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Muncul isu mengenai validitas hasil tes swab yang dilakukan Badan Intelijen Negara (BIN). BIN menegaskan alat tes swab Corona yang dipakai sudah melewati proses sertifikasi oleh lembaga internasional dan dinyatakan layak sesuai standar.

BIN di antaranya pernah menggelar tes swab di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta di Lembaga Administrasi Negara (LAN). Soal adanya isu akurasi tes swab, BIN mengatakan bahwa pihaknya menggunakan 2 alat RT PCR jenis Qiagen dari Jerman dan Thermo Scientific dari Amerika saat melakukan tes swab.

"Dalam melakukan proses uji spesimen, laboratorium BIN menggunakan 2 jenis mesin RT PCR. Yaitu, jenis Qiagen dari Jerman dan jenis Thermo Scientific dari Amerika Serikat dan memiliki sertifikat Lab BSL-2 yang telah didesain mengikuti standar protokol laboratorium, telah dilakukan proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional, World Bio Haztec (Singapura). Serta melalukan kerja sama dengan LBM Eijkman untuk standar hasil sehingga layak digunakan untuk analisis reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) yang sesuai standar," kata Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9).

Apa yang disampaikan Wawan menanggapi pemberitaan majalah Tempo mengenai validitas tes swab yang dilakukan BIN dalam artikel berjudul 'Prank Corona' dari Pejaten. Pejaten sendiri merupakan lokasi kantor pusat BIN.

Pegawai KPU dan para jurnalis mengikuti tes Swab COVID-19 di halaman kantor pusat KPU, Jakarta, Selasa (4/8/2020).Tes tersebut diselenggarakan oleh KPU bekerjasama dengan Badan Intelijen Negara (BIN).Suasana tes swab BIN di gedung KPU, Jakarta. (Ari Saputra/detikcom)

BIN menerapkan ambang batas standar hasil PCR tes lebih tinggi dibandingkan institusi lain. Ia menjelaskan nilai CT QPCR atau ambang batas bawah hasil tes PCR biasanya adalah 35, tapi BIN menaikkan ambang batas bawah menjadi 40. Hal itu untuk mencegah orang tanpa gejala lolos screening.

"Ambang batas bawah 35, namun untuk mencegah OTG lolos screening maka BIN menaikkan menjadi 40, termasuk melakukan validitas melalui triangulasi 3 jenis gen, yaitu RNP/IC,N dan ORF1ab," sebutnya.

Wawan juga menyebut fenomena hasil positif menjadi negatif itu bukan hal baru. Berdasarkan penjelasan Dewan Analis Strategis Medical Intelligence BIN, termasuk dalam jaringan intelijen di WHO, hal itu disebabkan sejumlah faktor. Apa saja?

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4