Viral Anggota Satpol PP DKI Disebut Pungli Saat PSBB, Kasatpol PP: Itu Bohong

Muhammad Ilman Nafian - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 21:43 WIB
Kasatpol PP DKI Arifin
Kasatpol PP DKI Arifin (Ilman/detikcom)
Jakarta -

Unggahan salah satu warganet viral di media sosial lantaran menyebut ada Satpol PP DKI melakukan pungutan liar saat melakukan penegakan aturan PSBB. Satpol PP menegaskan hal itu tidak benar.

Di media sosial, netizen itu menyebut ada 'jalur damai' dalam penerapan denda yang seharusnya Rp 10 juta tapi ditawarkan membayar Rp 3,5 juta. Dalam unggahan itu, praktik pungli disebutkan terjadi di rumah kawasan Pademangan, Jakarta Utara.

Menanggapi hal itu, Kasatpol PP DKI Jakarta Arifin mengatakan pihaknya telah mendatangi lokasi rumah makan tersebut untuk mengetahui kebenaran informasi yang viral. Berdasarkan pengakuan pemilik rumah makan, tidak ada pungli yang dilakukan anggota Satpol PP.

"Setelah didalami kemudian dilakukan penyelidikan, pemilik restoran itu juga menyatakan tidak pernah ada dan itu berita bohong ya, tidak benar, itu disampaikan oleh pemilik Restoran Akwang yang ada di Pademangan," ujar Arifin saat dihubungi, Rabu (24/9/2020).

Arifin mengatakan pihaknya juga telah memanggil netizen yang mengunggah informasi bohong tersebut. Hasilnya, pengunggah mengaku mendapat informasi salah dari orang lain.

"Selanjutnya, orang yang mem-posting di socmed itu yang mengatakan ada berita tadi, kita lakukan panggilan, kita minta penjelasan terhadap posting-annya di akun dia supaya kita mengetahui kebenarannya, karena kami dari Satpol PP mempunyai komitmen untuk memberantas pungli. Apabila ada anggota kami yang melakukan pungli tentu kita akan lakukan tindakan sebagaimana aturan yang berlaku," ucapnya.

"Pengakuan yang bersangkutan ternyata dia hanya dengar-dengar gosip saja, kemudian tanpa dia konfirmasi dengan pemilik restoran akwang, dia ungkapkan kekesalannya itu di akun socmed-nya," katanya.

Oleh karena itu, Arifin menyebut unggahan yang menyebut Satpol PP melakukan pungli itu tidak benar. Posting-an tersebut merupakan informasi hoaks.

"Ini adalah satu perbuatan yang perlu kejelasan dan kepastian, kalau pernyataan tidak benar maka punya dampak hukum, apalagi mem-posting di social media, ini masuk berita bohong, masuk hoaks," ujar Arifin.

Setelah dimintai keterangan, pelaku kemudian meminta maaf. Permintaan maaf itu diunggah di akun Instagram Satpol PP DKI.

"Setelah itu kemudian yang bersangkutan meminta maaf,baik itu melalui sosmed yang bersangkutan termasuk juga secara tertulis menyampaikan permohonan maaf, karena kelalaiannya tanpa konfirmasi tanpa meng-crosscheck," ucapnya.

Lebih lanjut, Arifin mengatakan, pihaknya juga tidak melaporkan pelaku ke polisi. Hal itu karena menganggap pelaku sudah meminta maaf.

"Ya ini saya rasa kita orang yang sudah punya niat untuk meminta maaf tentunya kita dengan jiwa besar juga harus menerima maaf ya, orang yang sudah mengakui kesalahannya itu yang sudah kita lakukan untuk tidak melaporkan kepada aparat yang berwenang pihak kepolisian dan kita cukupkan supaya ini tidak berulang lagi," imbuh Arifin.

(man/idn)