Dunia Menunggu Vaksin COVID-19, Kemungkinan Apa yang Bakal Terjadi?

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 20:40 WIB
LONDON, ENGLAND - AUGUST 19: Children play in a large mirrored object at the Science Museum on its official re-opening day on August 19, 2020 in London, England. The Science Museum reopens its doors to the public today, nearly five months after the Coronavirus pandemic shut down all public spaces. (Photo by Dan Kitwood/Getty Images)
Foto ilustrasi (Getty Images/Dan Kitwood)
Jakarta -

Diperkirakan, vaksin-vaksin COVID-19 baru bisa didistribusikan secara luas ke seluruh dunia pada 2021. Banyak negara masih harus menahan pandemi COVID-19 ini tanpa vaksin. Apa yang akan terjadi pada dunia?

Boston Consulting Group (BCG) merilis laporannya berjudul 'Pandangan soal Vaksin dan Pengobatan', diakses detikcom pada Kamis (24/9/2020).

Secara umum, kasus harian COVID-19 secara global mengalami kenaikan namun perlahan-lahan. Namun khusus di Asia, laju kenaikannya tidak perlahan-lahan. Di Eropa, sejumlah negara melihat potensi pandemi COVID-19 gelombang kedua.

Di sisi lain, pengembangan vaksin dan obat masih berproses.

Sejauh ini di seluruh dunia, ada 38 vaksin yang menjalani uji klinis, 9 di antaranya sudah masuk uji klinis Fase III. Distribusi luas untuk vaksin diprediksi baru terlaksana pada kuartal 2 tahun 2021.

Untuk obat COVID-19, ada 254 kandidat obat, kandidat utama ada 4 obat. Distribusi obat COVDI-19 secara luas diprediksi dilakukan pada kuartal 4 tahun 2020 alias akhir tahun ini.

Dalam kondisi demikian, menurut BCG, ada empat skenario yang mungkin terjadi pada 2021:

1. Pemulihan cepat

Fase persetujuan vaksin segera disambut dengan tindak lanjut organisasi pemerintah menuju adopsi cepat. Bila ini yang terjadi, pemulihan kondisi ekonomi akan cepat.

Pemulihan cepat bisa dilakukan bila vaksin bisa dipastikan secara lebih cepat.

"Pada kuartal ketiga (Juli, Agustus, September) 2021, pihak pemimpin ekonomi yang mempunyai akses terhadap vaksin bisa menahan pandemi," demikian kata BCG dalam paparannya.

Karakteristik dari kondisi pemulihan cepat ini adalah, pertama, teknologi kesehatan harus menunjukkan kemajuan yang berarti. Vaksin-vaksin harus terbukti ampuh dengan efikasi lebih dari 70%. Kedua, masyarakat juga harus tanggap dengan cara menerima vaksinasi, menerapkan jaga jarak, penggunaan masker, dan menerapkan pelacakan kasus COVID-19, serta mempunyai tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap pemerintah.

Virus harus terkontrol dengan tingkat infeksi menurun, semua menjadi 'zona hijau'. Dengan kondisi itu, pemulihan ekonomi dan sosial ditandai dengan optimisme daya beli yang tinggi. Pemulihan ekonomi akan terjadi di negara yang mendapat vaksin lebih awal, dilanjutkan dengan negara-negara lain.

2. Kepercayaan diri yang berhati-hati

Karakteristik dari skenario ini adalah efikasi vaksin berada pada level menengah, yakni dengan persentase 50-70%. Pihak yang mendapat manfaat adalah orang dewasa yang sehat. Di sisi lain, penyembuhan baru juga telah diterapkan dengan kemanjuran tinggi.

Karakteristik kedua dari skenario ini, vaksin diberikan bukan untuk semua warga namun khusus untuk kelompok-kelompok yang ditargetkan saja. Penggunaan masker, penerapan jaga jarak, hingga pelacakan dan penapisan COVID-19 diterapkan untuk kelompok rentan. Dengan kondisi demikian, maka virus Corona akan dapat dikendalikan pada akhir 2021.

"Volume kasus akan menurun namun hanya secara bertahap seiring dengan semakin banyaknya orang yang divaksinasi," kata BCG.

Ekonomi akan bangkit secara perlahan, namun sekolah dan panti jompo masih tetap terdampak.

3. Euforia yang salah

Skenario ini punya karakteristik efikasi vaksin menengah berkisar 50-70% saja di populasi yang terbatas. Penerapan vaksinasi tinggi.

Penerapan vaksin yang tinggi malah membuat orang-orang salah paham dan meninggalkan prinsip jaga jarak, tidak lagi menggunakan masker, dan menghentikan pelacakan dan penapisan COVID-19.

Akibatnya, COVID-19 naik lagi, atau mengalami turun-naik selama 2021. Pemulihan ekonomi dibuka secara hati-hati dan daya beli bergerak lambat dan singkat.

4. Paceklik berkepanjangan

Kondisi ini bisa terjadi apabila karakteristik yang muncul adalah efikasi vaksin yang rendah, di bawah 50%. Hanya sedikit saja pengobatan yang tersedia dengan hasil yang terbatas.

Prinsip jaga jarak, mengenakan masker, pelacakan, dan penapisan COVID-19 jalan terus. Orang-orang kembali beraktivitas seperti biasa.

Akibatnya, wabah virus Corona terus berlanjut di banyak wailayah. Lockdown lokal menjadi kenormalan baru. Daya beli menurun.

Selanjutnya
Halaman
1 2