Penyebab Kasus Corona Meningkat: Takut Periksa-Percaya Konspirasi

Tim Detikcom - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 18:49 WIB
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito
Foto: Rusman/Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Angka kasus baru positif Corona terus mencatatkan rekor. Per hari ini kasus baru positif COVID-19 di Indonesia 4.634 kasus, sehingga totalnya mencapai 262.022. Pemerintah mengungkap penyebab utama meningkatnya kasus di Indonesia, yaitu takut memeriksakan diri hingga percaya konspirasi.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, berdasarkan data per 20 September, secara nasional kenaikan kasus sebanyak 8,4 persen. Kasus tertinggi terjadi di DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.

Wiku menyebut ada empat hal yang menyebabkan kenaikan kasus dapat terjadi. Pertama, masyarakat belum berdisiplin mematuhi protokol kesehatan COVID-19.

"Masyarakat memang belum disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan hal ini diperburuk oleh perilaku masyarakat yang berkerumun sehingga meningkatkan resiko penularan," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (24/9/2020).

Penyebab kedua adalah masyarakat semakin lengah dan mengabaikan protokol kesehatan COVID-19. Wiku mengatakan masyarakat seperti tak memiliki empati, padahal telah ada banyak korban kasus COVID-19.

Ketiga, Wiku mengatakan, masyarakat takut melakukan tes Corona ketika sudah memiliki gejala terjangkit COVID-19. Padahal, jika masyarakat dites dan positif, akan dilakukan isolasi dan mencegah penularan kepada orang lain. Wiku meminta masyarakat yang terjangkit COVID-19 tak khawatir dengan biaya perawatan pasien COVID-19 karena ditanggung pemerintah.

"Di sini kami imbau agar masyarakat tidak memandang negatif kepada mereka yang positif COVID-19 karena penyakit ini bukan penyakit yang memalukan. Siapa pun yang terkena COVID-19 harus kita bantu dan kita sembuhkan dan tidak usah khawatir terhadap biaya perawatan karena seluruhnya ditanggung oleh pemerintah baik dengan BPJS ataupun tidak dengan BPJS," ujarnya.

Keempat, Wiku mengatakan beredar berita yang menyatakan COVID-19 adalah konspirasi. Ia menyayangkan ada masyarakat yang mempercayai hal tersebut.

"Terakhir kami juga melihat tren berita bahwa ada berita yang mengatakan terjadinya konspirasi anti-COVID-19 yang belum tervalidasi dan tidak berbasis pada data ilmiah, yang sayangnya masih dipercaya oleh masyarakat," kata Wiku.

"Jadi kami imbau agar masyarakat betul-betul bisa bekerja sama dengan pemerintah karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri karena kita membutuhkan kolaborasi bersama dengan masyarakat untuk dapat menekan angka penularan," sambungnya.

(yld/dhn)