NasDem Sindir Gatot soal Nobar G30S/PKI: Politik Receh, Gaya Sengkuni

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 17:47 WIB
Willy Aditya
Willy Aditya (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Partai NasDem balik menyindir Gatot Nurmantyo yang mengaitkan penggantiannya sebagai Panglima TNI dengan perintah menonton film G30S/PKI. Gatot dinilai tengah memainkan politik tipu muslihat.

"Itu namanya politik muslihat. Amat disayangkan sebenarnya karena politik semacam itu jauh dari mencerdaskan kehidupan bangsa. Itu jenis politik receh yang hanya bertujuan mengaduk-aduk emosi massa saja. Politik kita tidak rasional jadinya," kata Ketua DPP NasDem Willy Aditya kepada wartawan, Kamis (24/9/2020).

Willy menyayangkan gaya politik Gatot yang mengungkit lagi kejadian di masa lampau. Ia bahkan menyebut Gatot tengah meniru gaya politik Sengkuni.

"Kalau politik jadi emosional ya taruhannya luar biasa, dari nyawa sampai keutuhan negara. Dan itu sudah terjadi pada 2017 dan 2019 kemarin. Jadi saya amat menyayangkan gaya politik semacam ini. Apalagi datangnya dari seorang jenderal mantan panglima yang harusnya lekat dengan sikap-sikap kesatria dan patriotik. Ini malah gaya politik Sengkuni yang ditiru," ungkapnya.

Willy mengaku heran Gatot mengaitkan penggantian dirinya sebagai Panglima TNI dengan perintah menonton film G30S/PKI. Pasalnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ikut dalam acara nobar G30S/PKI pada 2017.

"Sebab kalau soal menonton film Gestapu, Pak Jokowi juga nonton, malah bareng dengan Pak Gatot sendiri. Jadi aneh kalau pencopotannya disebut karena arahan itu. Sementara film Gestapu sendiri juga sudah bisa ditonton di mana-mana, kapan saja, dan oleh siapa saja di YouTube. Jadi ya itu tadi, ini politik pembodohan karena hanya bertujuan mengaduk-aduk emosi massa. Persis seperti Sengkuni," tutur Willy.

Lebih lanjut, Willy mengatakan status PKI dan komunisme jelas sebagai paham terlarang di Indonesia. Namun, menurutnya, berlebihan jika menonton film G30S/PKI dijadikan tradisi setiap tahunnya.

"Lho, film itu kan bisa diputar setiap saat oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. Kalau nontonnya jadi ritual ya itu lebay namanya, dan pasti punya tujuan politik tertentu seperti yang saya sampaikan tadi," ungkap Willy.

"Soal akurasi, itu pasti debatable. Para ahli sejarah pasti punya pandangan masing-masing, dan itu biasa. Tapi untuk filmnya sendiri pasti ada bias kepentingan karena waktu itu dibuat oleh Orba. Jadi sebagai produk sejarah, film itu cenderung subjektif ketimbang objektif," lanjut dia.

Sebelumnya diberitakan, Gatot Nurmantyo berbicara soal perintah menonton film 'G30S/PKI' dalam channel YouTube Hersubeno Point seperti dikutip pada Rabu (23/9). Gatot Nurmantyo mulanya menyinggung berita pada 2017 soal generasi muda tidak percaya adanya PKI.

Gatot pun berbicara soal arahannya untuk menonton film 'G30S/PKI' untuk memberi peringatan ketika dia menjabat Panglima TNI. Gatot lalu mengaitkan arahan ini dengan pergantian Panglima TNI.

"Pada saat saya menjadi Panglima TNI, saya melihat itu semuanya, maka saya perintahkan jajaran saya untuk menonton film G30S/PKI. Pada saat itu, saya punya sahabat dari salah satu partai, saya sebut saja partai PDI, menyampaikan, 'Pak Gatot, hentikan itu. Kalau tidak, pasti Pak Gatot akan diganti'," kata Gatot.

"Saya bilang terima kasih, tapi di situ saya gas karena ini adalah benar-benar berbahaya. Dan memang benar-benar saya diganti," sebut Gatot.

(azr/elz)