Petani di Lumajang Diajari Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 18:42 WIB
Ditjenbun
Foto: DItjen Perkebunan Kementan
Jakarta -

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya melaksanakan strategi mitigasi dan adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim dalam bidang usaha perkebunan. Sebagai contoh, model teknologi mitigasi dan adaptasi telah dilaksanakan di Kelompok Tani Langgeng Tani II di Lumajang beberapa waktu lalu.

Kepala BBPPTP Surabaya Kresno Suharto menjelaskan kegiatan mitigasi pada sub-sektor perkebunan adalah upaya yang dilakukan oleh pelaku usaha perkebunan untuk mengurangi sumber emisi gas rumah kaca (GKR). Sedangkan adaptasi adalah tindakan penyesuaian untuk menghadapi dampak negatif dari perubahan iklim.

"Emisi karbon pada subsektor perkebunan dapat diminimalisir dengan pemanfaatan limbah perkebunan, mengintegrasikan dengan ternak (kebun-ternak), mengurangi atau menggantikan pemanfaatan pestisida dan pupuk kimia dengan organik, mengurangi penggunaan herbisida dan pemanfaatan pohon pelindung sebagai penyerap karbon," ujar Kresno dalam keterangan tertulis, Selasa ( 22/9/2020).

Kresno menambahkan, Direktorat Jenderal Perkebunan memiliki kebijakan mendorong penerapan sistem pertanian konservasi pada wilayah perkebunan termasuk lahan kritis, gambut, DAS Hulu dan pengembangan perkebunan di kawasan penyangga sesuai kaidah konservasi tanah dan air.

Lalu kebijakan penerapan paket teknologi ramah lingkungan, peningkatan pemanfaatan pupuk organik, pestisida nabati, agen pengendali hayati serta teknologi pemanfaatan limbah usaha perkebunan yang ramah lingkungan, peningkatan kampanye peran perkebunan dalam kontribusi penyerapan karbon, penyedia oksigen, dan peningkatan peran serta fungsi hidrologis.

Selanjutnya ada kebijakan penerapan pembukaan lahan tanpa bakar, rehabilitasi kebun dan penyesuaian kebutuhan tanaman pelindung bagi komoditi tertentu yang membutuhkan, dan penerapan teknik budi daya yang baik (good agricultural practices/GAP).

"Adapun aplikasi model teknologi mitigasi dan adaptasi pada sub-sektor perkebunan dimulai pada bulan Maret 2020. Pada bulan Agustus lalu (27/8), aplikasi model teknologi mitigasi dan adaptasi telah dilaksanakan di Kelompok Tani Langgeng Tani II, Desa Tamanayu, kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang," ujar Kresno.

"Pembangunan perkebunan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan produktivitas dapat dipertahankan sehingga mampu mengurangi kehilangan hasil akibat dampak perubahan iklim," imbuhnya.

Kresno menjelaskan tahapan pelaksanan kegiatan mitigasi dan dampak perubahan iklim dimulai dengan kegiatan sosialisasi kepada stakeholder perkebunan. Sarana input yang telah diberikan kepada kelompok tani/masyarakat perkebunan berupa pembangunan kandang ternak, ternak rumah kompos dan embung serta pembinaan teknis terkait budi daya kopi hingga pascapanen.

Sementara itu, Direktur Perlindungan Perkebunan Ardi Praptono memberikan apresiasi kepada kelompok tani yang telah melaksanakan kegiatan dengan baik. Ia semakin yakin jika kelompok tani telah sigap menghadapi perubahan iklim ini, maka risiko kegagalan panen bisa diantisipasi dan produktivitas tetap terjaga.

Kata dia, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Perkebunan memberikan bantuan kepada Kelompok Tani Langgeng Tani II berupa hewan ternak 25 ekor, kandang ternak, rumah kompos, embung, peralatan pertanian kecil, dan alat pengolah pupuk organic (APPO).

Adapun Sekretaris Kelompok Tani Langgeng Tani II, Mustofa berharap dengan adanya bantuan sarana input produksi dan pembinaan teknis dari BBPPTP Surabaya, maka kelompok tani akan bertekad lebih giat lagi dalam mengelola kebun kopinya, sehingga akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat/petani.

"Ternak yang diberikan Ditjen Perkebunan akan dikelola dengan baik, sehingga dapat menambah kas kelompok tani. Selain itu, kotoran kambing akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan pupuk untuk tanam kopi," ujar Mustofa.

Mustofa mengatakan untuk memanfaatkan embung yang telah diberikan oleh Ditjen Perkebunan akan dimanfaatkan untuk budidaya ikan, sehingga nanti dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar.

(akn/ega)