Polisi Periksa Psikologi Korban Pelecehan di Soetta Saat Rapid Test

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 18:30 WIB
ilustrasi
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Polisi telah meminta keterangan kepada perempuan berinisial LNI yang mengaku menjadi korban pelecehan seksual saat rapid test di Bandara Soekarno-Hatta. Polisi juga memeriksa kondisi psikologis korban pelecehan tersebut di P2TP2A.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan wanita itu dibawa ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Korban dibawa polisi ke P2TP2 Gianyar, Bali, hari ini.

"Kemudian juga kita lakukan pemeriksaan hari ini, pemeriksaan P2TP2. Ini yang sementara kita lakukan pemeriksaan untuk psikologi ya sebagai kelengkapan alat bukti kita, P2TP2A Gianyar, Bali," kata Yusri, kepada wartawan, Selasa (22/9/2020).

Seperti diketahui, kasus ini viral di media sosial setelah korban LHI menceritakan kejadiannya itu di akun Twitter. Singkat cerita, korban saat itu hendak melakukan perjalanan ke Nias pada Minggu (13/9).

Korban diminta menjalani rapid test. Korban pun awalnya yakin hasil rapid test akan nonreaktif lantaran dia yakin tidak pernah berada pada komunitas yang terpapar Corona.

Namun, saat hasil rapid test keluar, dia dinyatakan reaktif Corona. Di sinilah korban mengaku mengalami pemerasan dengan dalih data rapid test bisa diganti untuk kepentingan penerbangan.

Singkat cerita, LHI mengaku tetap dipaksa melakukan rapid test ulang dengan membayar Rp 150 ribu. Dia pun akhirnya dibawa ke tempat sepi dan diminta memberikan uang tambahan senilai Rp 1,4 juta.

"Di situ dokternya bilang 'mba, saya kan sudah bantu mba nih, bisa lah mba kasih berapa, saya juga sudah telpon atas sana sini, bisa lah mba kasih', di situ aku kaget dong, yaudahlah karna gamau ribet juga aku tanyain langsung 'berapa?', si dokter jawab 'mba mampunya berapa? Misal saya sebut nominalnya takut nggak cocok' hhh si anj*ng, yaudahlah aku asal jawab 'sejuta?', eh si dokter miskin ini jawab 'tambahhin dikit lah mba' si t*i yaudah karna aku males ribet orangnya, aku tambahin jadi 1,4 juta," tulisnya.

Terkait dengan hal tersebut, PT Kimia Farma Diagnostika dan PT Angkasa Pura II melakukan investigasi internal. Di sisi lain, Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadilah Bulqini mengatakan penumpang bersangkutan telah dihubungi oleh perseroan.

(fas/mei)