Menlu Ungkap RI Juga Gandeng Inggris Kerja Sama Vaksin Corona

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 13:23 WIB
Komisi I DPR menggelar rapat kerja dengan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi
Foto: Menlu Retno Marsudi di Komisi I DPR. (Lamhot Aritonang/detikcom).
Jakarta -

Berbagai negara masih berusaha menemukan vaksin virus Corona (COVID-19). Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan pemerintah telah melakukan dua pendekatan untuk dapat mendapatkan vaksin Corona.

Retno mengatakan pendekatan jangka pendek yang dilakukan Indonesia adalah melalukan kerja sama dengan negara tetangga seperti China, Korea Selatan, dan Inggris. Selain itu, pendekatan jangka panjang yang dilakukan, yaitu menciptakan vaksin produksi dalam negeri.

"Pemerintah Indonesia dalam memperoleh vaksin terdapat dua pendekatan. Pertama adalah pendekatan jangka pendek yang berarti akses cepat waktu terhadap vaksin yang akan ada dengan harga terjangkau dan pendekatan ini memerlukan kerja sama dengan pihak luar baik secara bilateral maupun multilateral," kata Retno dalam rapat bersama Komisi I DPR RI, di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2020).

"Kedua adalah pendekatan jangka panjang, yaitu pengembangan vaksin nasional. Vaksin merah putih kita yang kita harapkan menjadi penopang utama proses kemandirian vaksin COVID-19 di Indonesia," imbuhnya.

Lebih lanjut, Retno menjelaskan Indonesia telah melakukan beberapa kerja sama vaksin dengan sejumlah negara. Salah satunya adalah negara China.

"Sumber vaksin berasal dari Sinofac dan juga Sinopharm serta G42 dari RRT," ujar Retno.

Selain itu, Indonesia juga sudah melakukan kerja sama vaksin dengan Korea Selatan. Ia mengatakan uji klinis vaksin akan dilakukan pada bulan Oktober di Indonesia.

"Indonesia juga melakukan kerja sama dengan Genexine dari Korea Selatan. Saat ini proses memasuki uji klinis tahap satu di Korea Selatan dan uji klinis tahap dua akan dimulai Oktober di Indonesia," tuturnya.

Selain melakukan kerja sama vaksin dengan negara di Asia, Retno mengatakan pemerintah juga melakukan kerja sama dengan negara Inggris.

"Kerja sama serupa sedang dijajaki dengan AstraZeneca dan Imperial College London, keduanya dari Inggris," ucap Retno.

Retno mengatakan Indonesia juga telah memperoleh kerja sama vaksin dengan Gavi Covax Facility. Melalui kerja sama itu, menurutnya, Indonesia akan mendapat keringanan finansial atas vaksin COVID-19.

"Dari track multilateral Indonesia juga sudah memperoleh komitmen ketersediaan vaksin multilateral melalui mekanisme Gavi Covax Facility. Indonesia termasuk Covax 92 yaitu 92 negara dalam katagori low and medium income karena datanya diambil tahun 2019 dan diperkirakan akan mendapat vaksin 20 persen dari jumlah penduduk Indonesia," ucapnya

"Dan Indonesia juga akan memperoleh keringanan finansial melalui mekanisme ODA ataupun co-financing," sambung Retno.

Diberitakan sebelumnya, Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, telah menandatangani kesepakatan kerja sama dengan UNICEF yang didalamnya memuat soal pengadaan dan pengiriman vaksin dengan mekanisme multilateral. Selain itu, Indonesia juga melakukan kerja sama dengan GAVI dan COVAC Facility untuk memastikan akses adil dan merata atas vaksin COVID-19.

"Indonesia akan memperoleh vaksin sebanyak 20 persen dari jumlah penduduk di mana di dalamnya akan terdapat bantuan keringanan finansial melalui mekanisme ODA atau official development assistant," jelas kata Menlu Retno dalam agenda Provision of Procurement Services yang disiarkan secara daring, Rabu (16/9).

Dengan adanya bantuan finansial tersebut, diharapkan harga vaksin COVID-19 akan jauh lebih murah dan terjangkau. Diperkirakan vaksin COVID-19 yang didapatkan melalui kerjasama multilateral akan tersedia di 2021.

Untuk diketahui, Organisasi kesehatan dunia WHO menyebut kandidat vaksin AstraZeneca paling menjanjikan. Uji klinis vaksin COVID-19 yang dikembangkan AstraZeneca ini dilakukan bersama Universitas Oxford. Harga vaksin ini 4 dolar AS per dosis atau sekitar Rp 60 ribu. Uji klinis vaksin ini sempat dihentikan karena salah seorang relawan mengalami transverse myelitis atau peradangan pada sumsum tulang belakang.

Namun Oxford University pada Rabu, 16 September 2020 menyatakan penyakit yang muncul itu dianggap tidak berhubungan dengan pemberian vaksin. Sejumlah ilmuwan meminta transparansi kondisi relawan yang jatuh sakit tersebut. Inggris melanjutkan uji klinis pada Sabtu pekan lalu. Namun seperti dilansir CNN pada 17 September 2020, uji coba di AS sampai pekan ini masih dihentikan.

(hel/elz)