Round-Up

Ulah Keji Polantas Cabuli ABG Berdalih Tindak Pelanggar Lalu Lintas

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 05:48 WIB
Poster
Foto: Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Gadis ABG disemprit oleh oknum anggota Satlantas Polrestra Pontianak gegara tidak pakai helm dan masker. Bukannya ditilang, pelajar SMP kelas IX itu diajak ke hotel lalu disetubuhi oleh oknum polisi bejat itu.

Kapolresta Pontianak Kombes Komarudin mengungkapkan oknum polisi tersebut berpangkat brigadir polisi itu berdinas di Satuan Lalu Lintas Polresta Pontianak.

Komarudin menceritakan pihaknya menerima laporan terkait dugaan tindak asusila oknum polisi tersebut beberapa hari lalu. Orang tua korban, lanjut Komarudin, mengatakan anaknya sedang bersama oknum anggota Satlantas Polresta Pontianak.

"Kasus itu berawal dari laporan orang tua korban, yang berawal sampai sore hari anaknya belum kembali, kemudian anak itu dicari akhirnya dicari bertemu dengan rekannya yang memang saat itu sedang bersama dia, yakni berangkat dari rumah di Wajok ke Pontianak," ungkap Komaruddin.

Polisi pun turun tangan melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap oknum tersebut. Komaruddin memastikan dan menjamin kepada pelapor bahwa proses penyelidikan akan terus berjalan jika ditemukan bukti-bukti.

Usut punya usut, peristiwa itu berawal saat korban membonceng sepeda motor yang dikendarai rekan korban. Korban yang membonceng tidak menggunakan helm.
"Tidak (tilang), kalau itu saya pastikan hanya secara kebetulan, sedang kami dalami yang tentunya nanti akan terungkap di persidangan termasuk hasil visumnya seperti apa, termasuk juga bagaimana percakapan yang terjadi nanti akan terungkap di persidangan. Tapi yang jelas unsur persetubuhannya masuk," kata Kapolresta Pontianak Kombes Komarudin kepada wartawan, Senin (21/9/2020).

Lihat juga video 'Oknum ASN yang Cabuli Anak 8 Tahun di Mamasa Jadi Tersangka':

[Gambas:Video 20detik]



Setelah itu, kata Komaruddin, terjadi percakapan.

"Tapi kalau masalah modus tilang itu saya tegaskan tidak seperti demikian, hanya kebetulan tertangkap tangan pelanggaran yang memang kasatmata tidak menggunakan helm, setelah itulah ada mungkin percakapan dan sebagainya itu nanti yang akan kita tuangkan dalam berita acara pemeriksaan," paparnya.

Oknum polisi itu lalu memeriksa surat-surat kendaraan.

"Pelanggaran kasatmata tidak gunakan helm, diperiksa surat-suratnya, dibawa ke pos lantas di sana mungkin terjadi dialog dan sebagainya, nanti baru kita kuatkan di proses pemeriksaan," ucapnya.

Korban lalu dibawa ke hotel. "Rekan (korban) nggak (ikut ke hotel), yang pergi hanya korban dan pelaku," tuturnya.

Dalam kesempatan terpisah, korban menceritakan peristiwa pilu yang dialaminya tersebut.
Korban mengatakan peristiwa itu terjadi Selasa (15/9/2020). Saat itu dia diberhentikan karena tidak memakai helm dan masker.

"Pertama itu saya pergi mau pasang behel (gigi), selesai pasang behel kami rencana pergi ke mau ke TPI, pas di simpang lampu merah kami kena tilang dengan oknum polisi. Kunci motor diambil, sepeda motornya diseret ke pos polisi, setiba di pos polisi ditanya sama oknum polisi, kenapa nggak pakai helm?, Kami tak ada helm," tutur korban dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (19/9/2020).

Setelah itu, oknum polisi Brigadir DY itu memaparkan kesalahan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan korban dan kerabatnya. Untuk diketahui, posisi korban saat itu dibonceng, bukan sebagai pengendara motor.

Kemudian, oknum polisi itu menyebutkan kesalahan korban ada empat, yakni tidak pakai helm, tidak pakai masker, pelat nomor tidak dipasang, dan STNK sudah mati. Lalu korban dan kakaknya ditanya oknum petugas ini lagi.

"'Dari satu pelanggaran, tahu ndak dendanya ada berapa', kami tak tahu. 'Tapi oknum anggota ini menyebutkan satu denda mencapai Rp 200 ribu lebih," ujar korban menirukan percakapan dengan pelaku.

Selanjutnya
Halaman
1 2