Tingkatkan Kualitas Kakao, RPO Gorontalo Terapkan Sarungisasi

Inkana Putri - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 21:27 WIB
Kakao
Foto: Kementan
Jakarta -

Pandemi COVID-19 tak mematahkan semangat para petani dan pekebun yang tergabung dalam Regu Pengendalian OPT (RPO), yang tetap aktif berkegiatan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Dalam bertugas, RPO juga tetap berkoordinasi secara daring, baik dengan Brigade Proteksi Tanaman (BPT) yang berada di UPTD Perlindungan Perkebunan di tiap provinsi maupun BPT UPT Pusat.

Slamet sebagai salah satu pendiri RPO Gotong Royong Gorontalo mengatakan di tengah pandemi dirinya harus bergerak demi menjaga kesehatan dan kualitas kakao. Pasalnya, RPO yang terbentuk 2 tahun silam ini telah mampu menghasilkan rupiah dari jasa pengendalian OPT yang diberikannya kepada warga sekitar.

"Di tengah pandemi ini, kami tetap gerak. Lha wong bukan hanya kita yang mau sehat tho, kakao ne juga kudu sehat, jadi OPT nih harus dibasmi, kalau dibiarin aja kakaonya mati kita malah jadi pusing malah jadi ga sehat kabeh," ujar Slamet dalam keterangan tertuli, Senin (21/9/2020).

Sementara itu Tim Pendamping Petani Kakao Gusti menjelaskan OPT yang banyak menyerang kakao di lahan sekitar yaitu hama Penggerek Buah Kakao (PBK). Oleh karena itu, pihaknya menggunakan metode sarungisasi untuk melindungi kakao dari hama.

"Jika tidak dikendalikan, larva PBK mampu menyebabkan biji buah kakao saling lengket sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas produksi buah menurun hingga 70%. Kita lakukan sarungisasi biar ulatnya ga bisa masuk ke buah, kita aja disuruh pake masker, kakaonya jadi nya dimaskerin juga," katanya.

Metode sarungisasi ini dilakukan saat buah masih sangat muda dan berukuran kurang lebih 8 cm dengan menggunakan peralatan sederhana yaitu karet gelang, pipa paralon, dan plastik. Nantinya, kedua ujung plastik dilubangi agar terjadi pertukaran udara dan tidak lembap.

Adapun metode ini bertujuan untuk mencegah imago PBK meletakkan telur pada kulit buah kakao sehingga larva tidak masuk ke dalam buah. Metode ini juga merupakan salah satu komponen PHT yang cenderung ramah lingkungan karena tidak menimbulkan residu kimiawi, resurgensi dan resistensi hama, serta mudah dilakukan. Bahkan, pemakaian plastiknya pun dapat digunakan berulang kali pada musim buah selanjutnya.

Melalui metode ini, Slamet beserta tim mengaku bisa memanen buah kakao sebanyak lebih dari 1 ton/ha. Selain itu, harga kakao juga cenderung baik, yaitu di angka Rp. 38.000 untuk kakao fermentasi, dan Rp. 20.000 untuk kakao nonfermentasi.

Slamet mengatakan kerja sama dengan pihak pemerintah ini terus berjalan dan ditingkatkan dalam membangun kemandirian petani. Semangat RPO Gotong Royong juga ini patut diapresiasi karena tetap mampu menjaga kesehatan diri, serta tanaman kakao secara bersamaan.

Hal ini juga tentunya sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk menggenjot produktivitas komoditas pertanian termasuk perkebunan, sehingga memiliki kualitas yang bernilai dan berdaya saing di pasar dunia.

(mul/mpr)