Polisi Didukung Usut Pelecehan di Soetta, Perlu Hati-hati Periksa Korban

Arief Ikhsanudin - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 13:44 WIB
ilustrasi
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Komnas Perempuan mendukung pengusutan kasus dugaan pelecehan yang dialami seorang perempuan berinisial LHI saat rapid test di Bandara Soekarno-Hatta. Komnas Perempuan mengapresiasi upaya jemput bola yang dilakukan polisi.

"Menurut saya, bagus kalau polisi mendatangi korban dengan situasi seperti ini. Artinya, polisi cukup sensitif mengingat situasi trauma yang dialami oleh korban memungkinkan sistem 'jemput bola' dilakukan. Yang penting, tetap melihat kepentingan korban," ujar Komisioner Komnas Perempuan, Theresia Iswarini, saat dihubungi, Senin (21/9/2020).

Theresia meminta polisi memperhatikan kepentingan korban. Kepentingan korban yang dimaksud adalah keinginan LHI agar dibantu menyelesaikan kasus ini sehingga korban merasa terlindungi.

"Kepentingan korban artinya, korban memiliki kepentingan untuk dibantu, apalagi dalam situasi sulit. Korban, di-rapid test tentu sudah mematuhi protokol pengecekan COVID," kata Theresia.

"Jika mengalami pelecehan dalam upaya pemenuhan kewajiban, maka dia penting dibela, diperhatikan pengalamannya, dan dicarikan jalan keluar," ujarnya.

Theresia juga meminta polisi berhati-hati saat menggali informasi. Polisi, kata dia, harus sensitif pada korban pelecehan saat melakukan pemeriksaan.

"Saat pengumpulan data dan informasi penting memperhatikan pengalaman korban dan tidak menyalahkan korban serta mencermati pengalaman tersebut sebagai basis tindak lanjut berikutnya," kata Theresia.

"Data dan informasi yang digali perlu hati-hati," sambungnya.

Seperti diketahui, kasus ini viral di media sosial setelah korban LHI menceritakan kejadiannya itu di akun Twitter. Singkat cerita, korban saat itu hendak melakukan perjalanan ke Nias pada Minggu (13/9).

Korban diminta untuk menjalani rapid test. Korban pun awalnya yakin hasil rapid akan nonreaktif lantaran dia yakin tidak pernah berada pada komunitas yang terpapar Corona.

Namun, saat hasil rapid test keluar, dia dinyatakan reaktif Corona. Di sinilah korban mengaku mengalami pemerasan dengan dalih data rapid test bisa diganti untuk kepentingan penerbangan.

Singkat cerita, LHI mengaku tetap dipaksa lakukan rapid test ulang dengan membayar Rp 150 ribu. Dia pun akhirnya dibawa ke tempat sepi dan diminta memberikan uang tambahan senilai Rp 1,4 juta.

Polisi pun turun tangan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan akan mendatangi LHI yang saat ini berada di Bali untuk meminta keterangan. Menurut Yusri, LHI belum membuat laporan polisi karena sibuk bekerja.

"Iya di Bali, kita sudah hubungi minta suruh datang ke sini, tidak bisa alasannya masih kerja, petugas Polres Bandara (Soekarno-Hatta) akan berangkat ke Bali untuk langsung menjemput. Dari Bali kami mengundang lagi ke kantor polisi, juga tidak datang, rencana penyidik mau berangkat kesana jemput bola (ke Bali). Jangan menyebarkan tetapi habis itu sembunyi... kita jemput bola karena dia sudah menyebarkan, kita jemput bola ke sana supaya terang benderang perkara ini, masyarakat tidak beralibi lain, dia tidak ngoceh sembarangan, kita terangkan perkara ini," ujar Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (20/9).

(aik/mae)