Satgas Ungkap Kendala Integrasi Data Corona: Tak Sinkron Pusat dan Daerah

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 01:26 WIB
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito berbicara tantangan terbesar Indonesia dalam menangani pandemi Corona. Ia menyebut saat ini Indonesia masih terkendala dalam mengintegrasikan data penyebaran virus corona (COVID-19).

"Kendala utama dari Indonesia yang besar ini untuk kepentingan pusat tentunya adalah semua datanya harus terintegrasi jadi satu. Interoparable. Kendala utama inilah yang jadi tantangan kita sejak pertama sampai sekarang," kata Wiku saat menjadi pembicara dalam Webminar Nasional Seri 2 Kelompok Studi Demokrasi Indonesia Strategi Menurunkan COVID-19 Menaikkan Ekonomi, secara daring pada Minggu(20/9/2020).

Wiku menjelaskan masing-masing daerah menerapkan metode pengumpulan data COVID-19 yang berbeda-beda. Hal ini kerap menjadi kendala pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemkes) saat memverifikasi data yang diterima dari daerah.

"Beberapa daerah terutama Semarang, Jateng, Jatim masih saja ada data yang tidak sinkron antara data di daerah dan pusat karena sistem pengumpulan datanya sendiri juga berbeda dan tidak jadi satu sehingga kesulitan juga pempus di Kemkes untuk melakukan verifikasinya mulai dari data laboratorium testing, begitu juga tracing yang dilakukan dinas kesehatan," jelasnya.

Atas hal ini, Wiku berharap antara pemerintah daerah maupun pemerintah pusat bisa memiliki keselarasan sistem dalam memasukkan data COVID-19. Hal inipun dapat mempermudah pemerintah setempat dalam mengidentifikasi dan menangani virus Corona di daeranya masing-masing.

"Jadi kalau semua seluruh Indonesia bisa menjadi kesatuan sistem maka saat itu juga gubernur bisa mendapatkan laporan dari seluruh kabupaten kota yang ada di provinsinya dan bisa melakukan action langsung disitu. Baik oleh gubernur, bupati, wali kota sehingga development support itu bisa dilakukan dengan baik," sebutnya.

Wiku pun menilai kualitas penangan pandemi Corona ini dapat dilihat melalui data-data kasus COVID-19 itu sendiri. Melalui data, Satgas COVID-19 dapat menganalisa dan menentukan tindakan apa yang harus dilakukan. Data-data inipun, sebut Wiku, tidak hanya berbicara mengenai akumulatif jumlah kasus positif Corona saja. Tetapi juga meliputi jumlah kasus aktif dari waktu ke waktu.

"Semakin bagus datanya, semakin bagus navigasi kita dalam menanganinya. Kalau kita lihat dari potret lain, kalau dari kumulatif-kumulatif itu pasti nggak akan turun karena setiap kali nambah 1, nambah 1000 tentu saja grafiknya terus naik. Tapi kalau dilihat dari kasus aktif dari waktu ke waktu, dari catatan data yang ada di seluruh daerah ini kita sebenarnya relatif menurun, relatif menurun di Bulan September ini keliatan nih mulai flat potensi macam-macam," ungkapnya.

"Ini harus ditekan betul supaya kasus aktifnya betul-betul turun terus sehingga testingnya makin banyak yang terlaporkan makin banyak dan sekarang itu positif ratenya adalah tadi ada dari ini 14,2 persen harusnya dibawah 5 persen. Jadi targetnya harusnya begini dites yang banyak yang positif sedikit," lanjutnya.

(isa/isa)