Aksi Sejoli Jebak hingga Mutilasi Rinaldi Disebut Amat Rapi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 20 Sep 2020 14:40 WIB
Rekonstruksi kasus mutilasi Rinaldi Harley Wismanu
Rekonstruksi kasus mutilasi Rinaldi Harley Wismanu. (Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menyoroti ketenangan Djumadil Al Fajri (26), salah satu pelaku mutilasi Rinaldi Harley Wismanu. Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, melihat kaitan ketenangan ini dari sisi berbeda. Dia menduga pelaku sudah pernah melakukan kejahatan dengan modus yang sama.

"Aksi mutilasi, menyusul pembunuhan, yang dilakukan LAS dan DFA memang sadis. Kesadisan itu diasosiasikan dengan luapan emosi negatif. Faktanya, mengacu investigasi Polda Metro Jaya, tidak demikian," kata Reza Indragiri dalam keterangannya, Minggu (20/9/2020).

"Kasus ini tampaknya termasuk tipe pembunuhan instrumental-gratifikasi (ekonomi). Niat awal para pelaku adalah merampas harta. Tapi karena korban melawan, terjadi benturan fatal. Perilaku pelaku kebablasan, sehingga perampokan/pemerasan berencana justru menjadi pembunuhan," sambungnya.

Reza menilai kejahatan yang dilakukan oleh oleh pelaku tak didorong oleh emosi, melainkan motif instrumental.

"Aksi mutilasi mereka pun bukan didorong oleh emosi, tapi dilatari motif instrumental (tidak ada sangkut pautnya dengan suasana hati) pula, yaitu untuk menghalangi kerja kepolisian. Tubuh korban dicacah-cacah dengan maksud agar barang bukti lebih mudah dihilangkan, pelarian diri dari TKP lebih cepat, dan korban tidak dapat diidentifikasi," ungkapnya.

Dia mengatakan bahwa pelaku melakukan modusnya dengan rapi. Maka dari itu, dia menduga bahwa kejahatan dengan modus serupa juga pernah dilakukan pelaku.

"Modus yang rapi, yaitu menjebak korban secara seksual, boleh jadi mengindikasikan bahwa secara berkelompok para pelaku pernah melakukan modus serupa sebelumnya. Alhasil, betapa pun kebablasan, penggunaan modus yang sama atas diri korban terakhir merupakan bukti kefasihan sekaligus puncak karir kriminal para pelaku. Kriminal generalis, bukan spesialis pembunuhan," tuturnya.

Tonton juga 'Polisi: Tersangka Jumadil Al Fajri Belajar Mutilasi dari YouTube':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2