Benarkah Kursi Waketum Gerindra Poyuono Kini Diduduki Habiburokhman?

Nur Azizah Rizki Astuti, Rahel Narda Chaterine - detikNews
Sabtu, 19 Sep 2020 11:25 WIB
Habiburokhman dan Arief Poyuono
Habiburokhman dan Arief Poyuono (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Politikus Partai Gerindra Arief Poyuono 'menyenggol' sang Ketum Prabowo Subianto soal isu pelanggaran HAM masa lalu. Kolega separtainya, Habiburokhman, menduga Poyuono galau soal kepengurusan baru Gerindra.

Untuk diketahui, di kepengurusan Gerindra sebelumnya, Poyuono menjabat Wakil Ketua Umum. Kini kepengurusan Gerindra masih menunggu SK pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM (HAM). Belum jelas apakah Poyuono kembali menduduki jabatan lamanya, namun ia menolak jika disebut galau soal jabatan karena manuvernya mengungkit isu HAM Prabowo.

"Jadi artinya nggak penting bagi saya, apalagi dikatakan saya galau. Tidak. Saya tidak galau. Seorang Arief Poyuono itu tidak pernah galau dan tidak pernah pusing dalam hidupnya. Pernah nggak melihat saya di TV atau bicara sama saya, galau. Apakah saya bicara galau? Tidak. Apalagi dibilang dengan posisi," kata Poyuono kepada detikcom, Kamis (17/8/2020).

Di sisi lain, Habiburokhman menasihati Poyuono agar menerima apa pun penugasan partai terhadapnya. Habiburokhman juga menjelaskan ada mekanisme keterwakilan dalam susunan para Wakil Ketua Umum di Gerindra, seperti pensiunan TNI, perempuan, hingga aktivis. Poyuono, disebut Habiburokhman, menjabat Waketum Gerindra sebagai representasi aktivis.

Habiburokhman pun meminta Poyuono tidak sakit hati jika tidak terpilih kembali sebagai Waketum. Ia juga mencontohkan, jika Habiburokhman-lah yang terpilih sebagai Waketum, Poyuono tidak perlu menyimpan perasaan berat.

"Ada representasi aktivis 98, ada representasi pensiunan tentara, gitu kan. Kalau Pak Poyu kemarin jadi Waketum selama hampir 5 tahun itu kan bukan sekadar pribadi, tapi representasi aktivis 98. Begitu juga, misalnya nih, saya cek kemarin itu Waketumnya ada nama saya, gitu kan. Nah, bukan karena saya pribadi juga, karena dianggap representasi aktivis di gerakan," ujar Habiburokhman.

Poyuono dan Habiburokhman memang sudah mengenal lama sejak keduanya menjadi aktivis 1998. Mereka pun bergabung dengan Gerindra pada tahun yang sama atas ajakan Prabowo Subianto.

Poyuono, yang mengaku tujuannya masuk Gerindra adalah memenangkan Prabowo di pilpres, mengatakan tidak pernah mengincar jabatan posisi di partai. Poyuono juga menceritakan petualangan politiknya, dari PDIP Perjuangan, Partai Demokrat, hingga saat ini di Gerindra, adalah demi memperjuangkan masyarakat buruh dan nelayan melalui rumah politiknya.

"Bagi saya, posisi di partai politik sama saja. Tidak ada bedanya dalam hidup saya. Karena saya tidak menggunakan partai politik atau perjuangan politik saya untuk mencari hidup, untuk mencari kehidupan saya? Tidak, tidak pernah gitu lho. Saya ingin memastikan masyarakat buruh, tani, nelayan yang saya layani dan tempat saya sendiri, ini bisa diperjuangkn oleh partai. Itu doang tujuan saya. Apalagi jabatan. Aduh.... Saya itu terbiasa dengan tidak ada jabatan dari dulu. Kalau saya ingin, mau kan, saya ada misalnya ingin mencalonkan lagi DPR RI. Saya kan nggak. Saya kan berjuang penuh di pilpres. Berkonsenterasi bagaimana menangin Prabowo," ungkap Poyuono.

Selanjutnya
Halaman
1 2