Petani Kopi Tapsel Mulai Produksi Pupuk Organik & Tinggalkan Kimia

Abu Ubaidillah - detikNews
Jumat, 18 Sep 2020 18:37 WIB
Kementan
Foto: Kementan
Jakarta -

Petani kopi Desa Sampean, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan yang menjadi peserta kegiatan Pengembangan Desa Pertanian Organik Berbasis Komoditas Perkebunan Tahun Anggaran 2020 memberikan respon yang nyata.

Setelah mendapatkan bimbingan teknis dari Guru Besar Universitas Jenderal Soedirman, Loekas Soesanto, petani mulai memproduksi pupuk dan pestisida organik secara mandiri bersama dengan BBPPTP Medan dan Petugas PPL Dinas Kabupaten Tapanuli Selatan. Selain itu, petani juga berkomitmen untuk meninggalkan bahan kimia.

Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan, Sigit Wahyudi mengatakan pupuk dan pestisida organik yang diproduksi menggunakan bahan-bahan yang sangat mudah diperoleh dan tersedia di alam.

"Untuk pupuk organik cair atau disingkat POC, petani hanya membutuhkan bahan-bahan seperti urin sapi, MOL dan gula aren. Bahan-bahan tersebut dicampur dalam satu wadah (tong atau drum), selanjutnya diaduk sampai merata, ditutup menggunakan plastik hitam untuk proses fermentasi," ujar Sigit dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2020).

Sigit menjelaskan, setelah 3 minggu, pupuk sudah bisa digunakan dengan cara disemprotkan ke tanaman atau disiram ke tanah sekitar perakaran. Pupuk ini bisa menjadi pengganti pupuk kompos yang selama ini dibeli oleh petani.

"Bahkan dapat juga berfungsi sebagai ZPT (zat pengatur tumbuh). Pupuk ini mengandung senyawa seperti nitrogen, fosfor, kalium dan juga air lebih banyak dibanding kotoran sapi padat," imbuhnya.

Selain PC, Sigit mengatakan petani juga memproduksi pupuk ZPT dari bahan rebung. Rebung dicincang halus seperti dadu kemudian ditambahkan gula putih. Bahan-bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam satu wadah, misaya jerigen atau ember, ditutup, lalu difermentasikan.

"Setelah 2 minggu, pupuk sudah bisa digunakan. Aplikasi ke tanaman bisa dilakukan dengan cara disiram atau disemprotkan ke seluruh bagian tanaman," terangnya.

Sementara itu, pestisida organik yang diproduksi petani berbahan aktif jamur entomopatogen Beauveria bassiana dan Trichoderma sp.. Pestisida ini mengandung beberapa zat seperti antibiotika, enzim, hormon, dan toksin yang tak hanya bermanfaat dalam mengendalikan OPT, namun juga berpengaruh untuk pertumbuhan tanaman.

Sigit mengatakan untuk pembuatan pestisida organik tersebut, petani harus memperbanyak starter APH (agensia pengendali hayati) yang akan dijadikan biang untuk pembuatan pestisida organik.

"Isolat APH Trichoderma sp. dan Beauveria bassiana yang diperoleh dari BBPPTP Medan diperbanyak dengan menggunakan media jagung giling. Setelah 7-14 hari kedua jamur tersebut menghasilkan spora, maka sudah bisa digunakan sebagai biang untuk membuat larutan pestisida organik. Dalam mengaplikasikan, sebaiknya diencerkan terlebih dahulu dengan air," paparnya.

Sigit mengatakan pestisida organik sangat aman digunakan bagi tanaman dan tidak berpengaruh negatif terhadap manusia. Tak hanya untuk tanaman perkebunan, namun pestisida organik ini juga bisa digunakan untuk mengendalikan OPT pada tanaman pangan dan hortikultura.

Menurutnya, tak nanya memproduksi, petani juga memerlukan pendampingan dalam mengaplikasikan pupuk dan pestisida organik di kebunnya masing-masing. Teknik pengaplikasikannya berbeda-beda untuk setiap OPT.

"Untuk itu, petani sangat memerlukan peran fungsional POPT dalam mengidentifikasi OPT tanaman. Dengan begitu, penggunaan pupuk dan pestisida organik dapat digunakan secara efektif dan efisien," pungkasnya.

(ega/ega)