Analisis Pakar Komunikasi soal Ahok Bongkar Borok Pertamina

Datuk Haris Molana - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 11:46 WIB
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meluncurkan buku Panggil Saya BTP di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).
Ahok (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Medan -

Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok, membongkar borok direksi Pertamina ke publik. Hal ini dinilai jadi bukti Ahok tak mampu menjalankan tugasnya sebagai Komut.

Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Akhyar Anshori, menganalisis pernyataan Ahok tersebut dari sisi komunikasi. Dia mengawali penjelasan dengan menyinggung sejumlah tugas yang disebutnya tertera dalam dokumen tentang Dewan Komisaris Pertamina per 31 Desember 2018.

Dalam dokumen itu, kata Akhyar, tugas Ahok antara lain melakukan pengawasan hingga pemberian nasihat kepada direksi. Akhyar juga menyebut dalam dokumen itu Ahok selaku Komut punya kewajiban memantau pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik.

"Jika melihat dokumen di atas, jelas Ahok tidak menjalankan fungsinya sebagai Komisaris Utama. Di mana dia harusnya mampu bertindak atas semua kekeliruan yang terjadi di Pertamina," kata Akhyar, Rabu (16/9/2020).

Menurut Akhyar, etika komunikasi yang dilakukan Ahok tidak mencerminkan kesantunan masyarakat Indonesia. Ahok dianggap berupaya menutupi kelemahannya lewat bicara dengan nada-nada kasar.

"Berbicara dengan nada-nada kasar, bagi sebagian masyarakat kita diartikan bagian dari menutupi kelemahan," ucap Akhyar.

Akhyar juga menilai Ahok tak mampu mengubah manajemen Pertamina sehingga membuka borok direksi ke publik. Dia heran mengapa Ahok tak menjelaskan prestasi Pertamina, padahal Ahok adalah bagian dari Pertamina.

"Bukan frustrasi karena tidak mampu mengubah manajemen Pertamina, tapi ketidakmampuan Ahok pribadi sebagai komisaris utama yang bertugas sebagaimana dokumen di atas. Seharusnya, sebagai komut dia harusnya menyampaikan prestasi selama memimpin, bukan malah membongkar kebobrokan yang ada," ujar Akhyar.

Selanjutnya
Halaman
1 2