Hari Selasa dalam Sejarah Islam, Ini Peristiwa yang Pernah Terjadi

Rosmha Widiyani - detikNews
Selasa, 15 Sep 2020 13:29 WIB
Couple of glowing Moroccan ornamental lanterns on the table. Greeting card, invitation for Muslim holy month Ramadan Kareem, festive blue night background with glittering golden bokeh lights.
Foto: Getty Images/iStockphoto/Tabitazn/Hari Selasa dalam Sejarah Islam, Ini Peristiwa yang Pernah Terjadi
Jakarta -

Hari Selasa, seperti hari lain dalam seminggu memiliki tempat yang istimewa bagi umat muslim. Dalam arsip berita detikcom disebutkan, almarhum KH Maimoen Zubair dalam setiap dakwahnya selalu menganggap Selasa adalah hari yang spesial.

"Seperti yang didawuhkan beliau, pembangunan dunia ada dua tahapan dengan yang pertama pada hari Ahad sama Senin. Tahap kedua adalah penyempurnaan saat bumi disempurnakan dengan ilmu. Maka dimulailah ilmu itu hari Selasa dan Rabu," kata salah seorang putra Mbah Moen Taj Yasin Maimoen.

KH Maimoen Zubair diketahui wafat pada hari Selasa 6 Agustus 2019 saat melakukan ibadah haji di Tanah Suci. Setelah meninggal di hari yang diinginan, jenazah almarhum dimakamkan di Al Ma'la Mekah, Arab Saudi.

Sejarah Islam mencatat beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi di hari Selasa, berikut penjelasannya:

1. Meninggalnya Nabi Jirji

Nabi Jirji disebut tinggal di Mosul Irak. Hal ini diketahui dari sebuah bangunan masjid bersejarah dan kuil yang dibangun pada abad ke-14 di Mosul. Bangunan itu sengaja didirikan untuk menghormati Nabi Jirji.

Namun komplek yang dibangun di pemakaman Quraysh tersebut dihancurkan ISIS dalam suatu serangan pada Juni 2014. Dikutip dari The Guardian, warga setempat memberi keterangan hancurnya bangunan bersejarah tersebut.

Jirji semasa hidup kerap disebut Jirjis-I-Baqia yang artinya, atas izin Allah SWT mampu kembali hidup setelah disiksa dan dibunuh. Dikutip dari situs Al-Islam, Nabi yang berasal dari Byzantium dan tinggal di Palestina tersebut kemudian kembali pada kaumnya untuk menerima ajaran Allah SWT.

Sayangnya, kesabaran Nabi Jirji tidak menjadikan Raja Kooraazaanaa dan pengikutnya mempercayai Allah SWT. Raja justru memerintahkan pengusiran dan pembunuhan Nabi Jirji di luar wilayah kekuasaannya di Syria. Sebelum meninggal, Nabi Jirji berdoa jika Allah SWT hendak membinasakan kaum tersebut maka mereka yang beribadah dan mengingatNya jangan sampai menerima adzab.

2. Terbunuhnya Nabi Yahya AS

Sejarah Islam juga mencatat kematian salah seorang utusan Allah SWT, Nabi Yahya AS, di hari Selasa. Dikutip dari situs Alim, Nabi Yahya menentang sang raja yang hendak melakukan pernikahan sedarah. Penolakan ini tak hanya memancing emosi sang raja tapi juga keponakan yang akan dinikahinya.

Sang raja yang saat itu menguasai wilayah Palestina memerintahkan pembunuhan atas Nabi Yahya AS, hingga wafat pada hari Selasa. Nabi Yahya AS adalah putra Nabi Zakariya AS yang sama-sama diutus untuk Bani Israil. Nabi Zakariya AS diketahui mengalami takdir yang tidak berbeda dengan putranya.

3. Wafatnya Nabi Zakariya AS

Setelah Nabi Yahya AS, Nabi Zakariya AS menemui ajal di tangan kaumnya sendiri Bani Israil. Sejarah Islam mencatat, Nabi Zakariya AS dikisahkan berhasil melarikan diri dari kelompok yang dikirim untuk membunuhnya.

Dalam perjalanannya, Nabi Zakariya AS disembunyikan dalam batang suatu tanaman atas izin Allah SWT. Namun persembunyian Nabi Zakaria AS diketahui setan yang membisikkannya pada Bani Israil. Kaum tersebut lantas memotong tanaman berserta Nabi Zakariya AS yang berada di dalamnya.

4. Berpulangnya Siti Khadijah

Istri Nabi Muhammad SAW yang pertama, Siti Khadijah, menjadi sosok penting dalam Sejarah Islam. Dia menjadi wanita pertama yang menyatakan keimanan pada Allah SWT dan Rasulnya serta mendukung penuh perjuangan terkait Islam. Siti Khadijah semasa hidup adalah figur yang sangat dihormati penduduk Mekah.

Siti Khadijah mendapat sebutan At-Tahira yang artinya suci atau Amirat Quraysh yang bermakna Putri Qurais. Dia terkenal dengan kebijakan dan kecerdasannya hingga berhasil memimpin usaha perdagangan. Siti Khadijah berpulang pada tahun 619 M pada usia 64 atau 65 tahun, tidak jauh berselang dengan paman Nabi Muhammad SAW Abu Thalib.

(row/erd)