Disebut Pukul Nelayan Penolak Tambang di Makassar, Polisi: Kita Nggak Mukul

Hermawan Mappiwali - detikNews
Senin, 14 Sep 2020 18:50 WIB
Direktur Ditpolair Polda Sulsel Kombes Hery Wiyanto (Hermawan-detikcom).
Foto: Direktur Ditpolair Polda Sulsel Kombes Hery Wiyanto (Hermawan-detikcom)
Makassar -

LBH Makassar mengatakan ada pemukulan oleh polisi saat menangkap 8 orang nelayan dan 4 mahasiwa pada aksi unjuk rasa yang diwarnai pelemparan bom molotov ke kapal milik penambang pasir di laut Kodingareng, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Polisi membantah melakukan pemukulan.

"Kita nggak nembak, kan dibilang nembak. Kita nggak mukul orang, dibilang mukul orang," kata Direktur Ditpolairud Polda Sulsel, Kombes Hery Wiyanto kepada wartawan di kantornya, Senin (14/9/2020).

Hal itu disampaikan Hery saat menanggapi pertanyaan wartawan soal laporan pemukulan oleh anggotanya. Hery mengatakan kondisi lautan berombak membuat para anggotanya tegas saat melakukan penangkapan.

"Itu kan hiruk-pikuk di tengah laut, pasti akan ditarik itu 'ehhh'. Nggak mungkin dia pindah sendiri, 'sini'. Kalau di tempat biasa (daratan), bisalah. Kemarin di sana itu begini (gestur ombak kencang) kalau tidak ditarik, jatuh sendiri juga dia," katanya.

Hery lalu menuturkan ketegasan polisi saat hendak menangkap nelayan yang dimaksud diperlukan. Hery menyampaikan jumlah nelayan dan mahasiswa yang menggelar unjuk rasa lebih banyak dari segi jumlah, sehingga polisi khawatir sewaktu-waktu diserang.

"Memang harus kita kasi shock, ndag bisa orang menangkap itu, harus dikasi shock, kalau ndag begitu kita yang dilawan mereka, orang lebih banyak mereka," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, LBH Makassar mengungkap 12 nelayan dan mahasiwa ditangkap saat melakukan aksi unjuk rasa di laut Kodingareng, Makassar. LBH mengungkap terjadi insiden kekerasan oleh aparat.

"Satu nelayan mengalami kekerasan hingga berdarah di bagian wajah," kata Kepala Divisi Tanah dan Lingkungan LBH Makassar Edy Kurniawan, melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Sabtu (12/9).

Selain nelayan, Edy juga menyebut seorang mahasiswa aktivis lingkungan juga sempat dipukul aparat.

"Dipukul di bagian wajah dan badan, ditendang, dan lehernya diinjak. Lalu handphone milik Rahmat yang dipakai merekam jatuh ke laut saat hendak disita oleh Polairud," kata Edy.

24 Jam setelah penangkapan, nelayan dan mahasiwa tersebut dipulangkan lantaran tak cukup bukti terlibat dalam kasus pelemparan molotov ke geladak kapal penambang pasir. Kendati demikian, Hery menyebut pihaknya masih mencari pelaku pelemparan molotov tersebut.

(aud/aud)