Petani di Medan Kini Bisa Konsultasi ke Dokter Tanaman Pakai Aplikasi

Nurcholis Maarif - detikNews
Senin, 14 Sep 2020 11:30 WIB
petani
Ilustrasi Petani/Foto: shutterstock
Jakarta -

Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan, Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, mengenalkan aplikasi Dokter Tani Kita (Donita). Layanan klinik ini bertujuan mempermudah petani memperoleh informasi soal organisme penyerang tanaman (OPT) dan pengendaliannya.

"Aplikasi Donita juga memfasilitasi petani dan pihak terkait lainnya untuk melaporkan atau mengadukan gangguan OPT perkebunan di wilayahnya," ujar Kepala BBPPTP Medan Sigit Wahyudi dalam keterangan tertulis, Senin (14/9/2020).

"Dengan aplikasi Donita, setiap petani dapat secara langsung berkonsultasi kepada dokter tanaman di BBPPTP Medan tentang permasalahan OPT di kebunnya," imbuhnya.

Dijelaskan Sigit, aplikasi Donita dibangun untuk memberikan layanan prima kepada masyarakat. Donita memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang keberadaan dan tupoksi BBPPTP Medan, khususnya dalam pengendalian OPT perkebunan.

"Dengan adanya aplikasi ini, layanan klinik tanaman BBPPTP Medan kepada masyarakat akan lebih mudah dan cepat," ujarnya.

Sigit mengatakan Donita masih dalam tahap penyelesaian, tetapi telah mulai diperkenalkan kepada masyarakat perkebunan. Sosialisasi dan pengenalan Donita dilakukan pertama kali kepada petugas UPPT dengan cara mengunduh aplikasi tersebut pada smartphone android masing-masing petugas dan mempelajari menu-menu yang terdapat di dalamnya.

"Pada saat aplikasi Donita selesai dibangun, diharapkan petugas UPPT dapat memperkenalkan aplikasi Donita kepada petani di daerah binaannya dan menjelaskan manfaat dari aplikasi tersebut," ungkap Sigit.

Ke depan, kata Sigit, akan ada pengembangan terhadap aplikasi tersebut. Pertama, memudahkan akses untuk pengamatan OPT.

"Penggunaan aplikasi online untuk pengamatan OPT tentunya lebih efektif dan efisien dari pada cara pengamatan dan pencatatan yang manual," ujar Sigit.

"Pada aplikasi ini, pimpinan melalui admin dapat memonitor seluruh aktivitas pengamatan yang dilakukan petugas dari waktu ke waktu dengan akurat," sambungnya.

Kedua, meningkatkan produktivitas pegawai. Dampak baik dari penggunaan aplikasi online juga dapat menjadikan petugas bekerja lebih produktif, kreatif, dan melek teknologi.

"Dengan demikian lebih banyak tugas yang dapat diselesaikan," ujar Sigit.

Ketiga, kolaborasi internal menjadi lebih efisien. Koordinasi antara petugas maupun antara instansi dapat lebih cepat terlebih lagi dalam situasi pandemi saat ini.

Sigit bilang aplikasi online sangat berguna di situasi seperti saat ini untuk memastikan bahwa pegawai tetap bekerja secara produktif. Untuk memudahkan pegawai dan meningkatkan kinerja pegawai di bidang teknologi, sehingga tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi.

"Aplikasi berbasis online ini dapat memudahkan seluruh instansi yang saling terkait untuk saling berkolaborasi/berkoordinasi mengenai laporan OPT," kata dia.

"Petugas antara instansi juga dapat saling berbagi informasi melalui sistem ini. Mereka tidak perlu bertemu secara langsung untuk mengonfirmasi sesuatu, karena mereka dapat mengeceknya sendiri melalui data real-time," jelas Sigit.

Lalu yang kelima kata Sigit, sharing informasi lebih cepat.

"Kita dapat membagikan informasi ke orang-orang tertentu yang terkait dengan memasukkan nama mereka yang terhubung langsung ke email mereka. Orang yang diberikan akses akan mendapatkan notifikasi mengenai perubahan atau pembaruan apapun yang ada di sistem," harap Sigit.

Sedangkan keenam, mempercepat pengambilan tindakan. Direncanakan kedua aplikasi dapat terhubung (link) satu sama lain sehingga apabila ditemukan suatu daerah yang memiliki tingkat serangan tinggi berdasarkan hasil pengamatan di Silap OPT, maka dapat segera dilakukan pengendalian dengan melihat rekomendasi pengendalian yang terdapat di Donita.

"Kita dapat membuat keputusan untuk pengambilan tindakan pengendalian berdasarkan pada data serangan OPT yang dilihat melalui data atau gambar peta yang telah memberikan notifikasi serangan tinggi," ujar Sigit.

"Apabila terdapat daerah yang terinfeksi OPT baru, maka dapat segera diantisipasi agar tidak merugikan. Data serangan OPT tersebut dapat ditandai dalam peta yang terdapat di Silap OPT," jelasnya.

Ketujuh, menjaga keamanan data dan sebagai bank data. Menyimpan data dalam sistem yang tersebar dalam beberapa database, sehingga data apapun yang dibutuhkan mengenai serangan OPT dapat tersimpan untuk beberapa tahun, dan jika dibutuhkan hanya mengonfirmasi ke yang bersangkutan untuk dibukakan datanya.

"Kita dapat menentukan pengguna yang dapat mengakses data-data tertentu, sehingga tidak semua orang diberikan hak untuk mengaksesnya," ujarnya.

Selain itu, kata Sigit, berbagai kesalahan dan gangguan dapat diantisipasi dan diperbaiki dengan segera oleh administrator khusus karena sistem telah dikelola dengan berbasis web.

"Harapan ke depannya kedua aplikasi ini dapat berhasil dimanfaatkan dan berkesinambungan juga bisa semakin berkembang (inovatif) sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan sehingga data dari lapangan bisa langsung sampai ke pusat dengan cepat dan akurat," ujarnya.

"Jadi wilayah pengembangan pemanfaatan kedua aplikasi ini juga diharapkan dapat segera mencapai 10 provinsi binaan BBPPTP Medan serta dapat diadopsi oleh instansi/UPT lain," pungkas Sigit.

(akn/ega)