Blak-blakan Sidarto Danusubroto

Sate Terakhir Bung Karno dan Survei Jokowi, Kesaksian Sidarto

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 14 Sep 2020 06:59 WIB
Anggota Wantimpres Sidarto Danusubroto
Sidarto Danusubroto (Foto: Indra Komara/detikcom)
Jakarta -

[Gambas:Video 20detik]

Di usia 84 tahun, Mayjen Pol (Purn) Sidarto Danusubroto masih tampak bugar. Matanya masih awas, kemampuan mendengar, bicara, serta ingatannya pun masih tajam. Tak heran bila Presiden Joko Widodo masih mempercayainya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

"Saya biasa berenang 30 menit setiap pagi. Cuma untuk makan sudah selektif dengan mengurangi karbo," kata ajudan terakhir Presiden Sukarno (Bung Karno) itu mengawali percakapan dengan detik.com di kediamannya, Minggu (13/9/2020).

Dengan suara berat penuh wibawa dia menuturkan fragmen-fragmen kehidupannya melintasi tiga zaman di bawah tujuh presiden. Dia pernah menjadi ajudan Bung Karno selama satu tahun tiga bulan, dan kini masih menjadi anggota Wantimpres. Dengan rentang perjalanan selama 56 tahun, Museum Rekor Indonesia menganugerahinya sebagai "Abdi Negara Terlama".

Sidarto diperintahkan menjadi ajudan Bung Karno mulai 6 Februari 1967. Dia dipilih karena baru saja menyelesaikan pendidikan di Fort Bragg, Amerika Serikat sehingga jauh dari kesan pro komunis. Toh begitu, dalam perjalanannya kemudian dia tetap terkena stigma sebagai loyalis Bung Karno.

"Saya dikarantina politik, harus menjalani pemeriksaan selama empat tahun. Karir di kepolisian pun sudah dipatok hanya boleh sampai pangkat Kolonel," tutur Sidarto.

Selepas MPRS menetapkan Soeharto sebagai Pejabat Presiden pada 12 Maret 1967, Bung Karno pun tak diizinkanlagi menghuni Istana. Malam itu, Sidarto dan beberapa pengawal menemani Bung Karno makan sate di sebuah warung pinggir jalan di kawasan Tanjung Priok. Saat hendak kembali ke Istana, rombongan tak diperkenankan masuk.

"Jadi, setelah menyantap menu sate terakhir di Priok itu, dengan mengenakan pakaian seadanya, beliau saya antar ke Wisma Yaso untuk mulai menjalani tahanan kota," ujar Sidarto Danusubroto.

Di awal reformasi, Sidarto yang sudah pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal, bergabung ke PDI Perjuangan. Dia menjadi anggota DPR selama tiga periode, dan puncaknya menjadi Ketua MPR mulai Juli 2013, menggantikan Taufiq Kiemas yang wafat.

Dengan Jokowi, Sidarto punya kedekatan khusus. Dia termasuk orang pertama di PDI-P yang aktif mengkampanyekan Jokowi sebagai bakal calon presiden pada 2014. Padahal waktu itu Jokowi baru 11 bulan menjadi Gubernur DKI Jakarta. Apa yang membuatnya berani nekad seperti itu? Benarkah ada kaitannya dengan hasil survei yang disodorkan pendiri Kompas/Gramedia Jacob Oetama? Simak selengkapnya dalam Blak-blakan Sidarto Danusubroto, "Di Antara Bung Karno dan Jokowi" di detik.com, Senin (14/9/2020).

(jat/jat)