Saudi dan Ulama

Heboh Penangkapan Ulama, Saudi Pernah Dikudeta karena Modernisasi

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Minggu, 13 Sep 2020 08:11 WIB
Kudeta Mekkah 1979 (Getty Images)
Kudeta Mekah 1979 (Foto: dok. Getty Images)
Mekkah -

Otoritas Arab Saudi belakangan menangkap sejumlah ulama, yang salah satunya qari ternama Sheikh Abdullah Basfar. Isu yang berkembang, Basfar ditangkap karena kritiknya terhadap putra mahkota yang hendak memodernisasi Saudi. Berpuluh-puluh tahun silam, pernah terjadi upaya kudeta untuk menggulingkan pemerintahan Kerajaan Saudi.

Seperti dilansir BBC, peristiwa itu terjadi pada 20 November 1979. Sekitar 50 ribu orang Islam dari seluruh dunia berkumpul untuk salat Subuh di halaman besar yang mengelilingi Ka'bah di Mekah.

Di antara mereka, berbaur 200 pria yang dipimpin oleh seorang pengkhotbah karismatik berusia 40 tahun bernama Juhayman al-Utaybi. Dia adalah tentara Saudi yang tak puas terhadap sistem monarki Saudi.

Horor upaya perebutan kekuasaan itu dimulai dengan penempatan peti mati tertutup di tengah halaman, suatu tradisi mencari berkah untuk orang yang baru meninggal. Ketika peti mati dibuka, mereka mengeluarkan pistol dan senapan, yang dengan cepat didistribusikan kepada para pria.

Salah satu dari mereka mulai membaca pidato yang sudah dipersiapkan: "Rekan-rekan muslim, kami mengumumkan hari ini kedatangan Mahdi... yang akan memerintah dengan keadilan dan keadilan di bumi setelah dipenuhi dengan ketidakadilan dan penindasan."

Juhayman al-Utaybi (Getty Images)Juhayman al-Utaybi (Foto: dok. Getty Images)

Bagi para peziarah yang berada halaman, ini adalah pengumuman yang luar biasa. Imam Mahdi ialah seorang juru selamat umat Islam yang diramalkan dalam hadis Nabi Muhammad. Mahdi sang penyelamat yang dimaksud ialah Mohammed bin Abdullah al-Qahtani.

Dalam rekaman audio pidato, Juhayman terdengar menginterupsi pembicara dari waktu ke waktu untuk mengarahkan orang-orangnya menutup gerbang masjid dan mengambil posisi sebagai penembak jitu di menara tinggi, yang kala itu mendominasi Kota Mekah. Hanya dalam satu jam pengambilalihan yang berani itu selesai.

Kelompok bersenjata tersebut akhirnya memegang kendali penuh atas Masjid al-Haram, memunculkan tantangan langsung kepada otoritas keluarga Kerajaan Saudi.

Mereka yang menduduki Masjidil Haram itu adalah kelompok ultrakonservatif muslim Sunni bernama Al-Jamaa al-Salafiya al-Muhtasiba (JSM). Mereka mengutuk apa yang disebut degenerasi nilai sosial dan agama di Arab Saudi.

Dibanjiri dengan uang dari bisnis minyak, saat itu Saudi secara perlahan berubah menjadi masyarakat konsumerisme. Mobil-mobil dan alat elektronik menjadi hal yang biasa. Negara ini mulai mengenal urbanisasi dan beberapa pria dan perempuan religius mulai bercampur di publik.

Sayangnya, kepemimpinan Saudi bereaksi lamban terhadap perebutan Masjid al-Haram. Putra mahkota Fahd bin Abdulaziz al-Saud saat itu berada di Tunisia untuk menghadiri KTT Liga Arab dan Pangeran Abdullah, kepala Garda Nasional--pasukan keamanan elite yang bertugas melindungi para pemimpin Kerajaan--berada di Maroko.

Insiden itu kemudian diserahkan kepada Raja Khaled dan Menteri Pertahanan Pangeran Sultan, yang sedang sakit, untuk mengoordinasi keadaan. Baku tembak pun sempat terjadi antara polisi Saudi dan para pemberontak. Namun, pada akhirnya gerakan ini bisa dikalahkan oleh para tentara keamanan Arab Saudi. Korban pun bergelimpangan.

Juhayman diarak di depan kamera dan sebulan kemudian, 63 pemberontak dieksekusi di delapan kota di Arab Saudi. Juhayman adalah yang pertama mati.

Peristiwa ini nantinya dikenang sebagai salah satu peristiwa berdarah di Saudi. Sementara itu, menurut seorang jurnalis internasional, Yaroslav Trofimov, dalam bukunya 'Kudeta Makkah', peristiwa itu merupakan akar sejarah gerakan terorisme global, terutama yang dimotori Al-Qaeda.

Tonton juga 'Sheikh Abdullah Basfar, Ulama Terkemuka yang Ditangkap Saudi':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2