Petani di Tapanuli Selatan Belajar Cara Atasi OPT Kopi Secara Organik

Nurcholis Maarif - detikNews
Rabu, 09 Sep 2020 17:28 WIB
Kementan
Foto: Kementan
Jakarta -

Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan menggelar bimbingan teknis pengenalan dan penanganan organisme pengganggu tanaman (OPT) tanaman kopi di Desa Sampean, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Guru besar Universitas Jenderal Soedirman Prof Loekas Soesanto jadi pemateri dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan diisi dengan sesi pemaparan materi oleh Prof Loekas, sesi diskusi dan tanya jawab serta pemaparan tentang pengalaman petani selama ini sebagai petani kopi, cabai, dan sayur-sayuran.

Prof Loekas menjelaskan pengenalan OPT tanaman kopi, perbedaan gejala serangan OPT, dan kekurangan unsur hara, serta teknik penanganan OPT dan kekurangan unsur hara tersebut dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

"Kita berharap agar petani kopi di desa bisa menerapkan sistem pengendalian secara PHT (Pengendalian Hama Terpadu) dan menjadi 'dokter tanaman' di kebunnya masing-masing," ujar Prof Loekas dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9/2020).

Lalu sesi diskusi dilanjutkan dengan kunjungan ke beberapa kebun kopi petani yang terserang OPT. Beberapa OPT yang ditemukan seperti serangan nematoda, PBKo, karat daun, antraknose buah dan jamur akar.

Selain serangan OPT, ditemukan juga kebun petani yang kekurangan unsur Magnesium. Dalam sesi tersebut, Prof Loekas menjelaskan perbedaan gejalanya yang dialami petani tersebut.

Lebih lanjut Prof Loekas berharap agar petani mengurangi penggunaan bahan kimia, bahkan tidak menggunakannya sama sekali, karena Desa Sampean telah dipilih dalam program pengembangan desa pertanian organik tahun anggaran 2020.

"Karena bahan kimia dianggap bukan solusi, namun hanya akan merusak unsur hara mikro yang ada di dalam tanah," ujarnya.

Prof Loekas juga memberikan solusi dengan menggunakan metabolit sekunder yang merupakan hasil pengujian dirinya selama beberapa tahun. Ia juga mengajarkan kepada petani untuk membuatnya sendiri, karena selain mudah, bahan-bahan yang diperlukan bisa diperoleh dari alam.

Adapun bahan-bahan yang diperlukan seperti air leri, air kelapa, gula, keong, dan akar putri malu.

Menerut Prof Loekas, petani sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mulai dari pemaparan materi, diskusi, praktek di lapangan dan pembuatan bahan yang disebut sebagai obat untuk mengendalikan OPT tanaman perkebunan, pangan, dan hortikultura.

"Petani sangat berharap agar kegiatan-kegiatan seperti ini sering dilakukan sehingga petani tidak buta dalam pengenalan dan penanganan OPT tanaman kopi ke depannya. Hal ini merupakan tugas bagi balai untuk membantu petani di Provinsi Sumatera Utara," pungkas Loekas.

Sementara itu, Kepala BBPPTP Medan Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Sigit Wahyudi menjelaskan melalui kegiatan bimbingan teknis ini, petani kopi diharapkan mampu mengenali gejala serangan OPT dan menerapkan teknik pengendalian secara PHT di kebunnya masing-masing.

Alhasil program desa pertanian organik bisa semakin berkembang dan membentuk kawasan organik di desa tersebut.

"Bimbingan teknis tersebut tidak hanya dihadiri oleh petani kopi, tetapi juga petugas UPPT Tapsel dan pendamping lapangan dari Dinas Kabupaten Tapanuli Selatan," kata Sigit.

(akn/ega)