LBM Eijkman: Uji Klinik Vaksin Mungkin Baru Bisa Dilakukan Mei 2021

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Selasa, 08 Sep 2020 16:16 WIB
Direktur Lembaga Biologi Molekuler Ejikman Prof Amin Soebandrio
Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio (Citra Nur Hasanah/20detik)
Jakarta -

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan progres perkembangan vaksin Corona dalam negeri. Amin mengatakan perkembangan vaksin dalam skala lab saat ini mencapai 50 persen.

"Terkait perkembangan vaksin itu sendiri di Lembaga Eijkman kami saat ini sudah mencapai kurang-lebih 50 persen dari kegiatan yang ditugaskan kepada Eijkman, artinya 50 persen dari skala laboratorium, dimana kami sudah dalam posisi saat ini menunggu ekspresi protein rekombinan yang akan dijadikan antigen," kata Amin dalam rapat bersama Komisi VII di kompleks gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2020).

Dalam dua-tiga bulan ke depan, diharapkan Eijkman bisa melakukan uji preklinis. Uji ini diterapkan kepada hewan bertubuh kecil ataupun besar.

"Diharapkan dalam dua-tiga bulan ke depan kami akan melakukan uji preklinik, uji kepada hewan, baik hewan kecil, mencit, maupun yang lebih besar, monyet," ujar Amien.

Amin lalu menjelaskan bahwa bibit vaksin yang sedang dikembang LBM Eijkman kemungkinan baru bisa disampaikan ke Bio Farma pada Februari atau Maret tahun depan. Namun diharapkan Bio Farma dapat masuk ke penelitian lebih awal.

"Sesuai dengan jadwal kami akan menyampaikan bibit vaksinnya kepada Bio Farma insyaallah Februari atau Maret tahun 2021. Tapi kami sudah melakukan pembahasan dengan temen-temen Bio Farma untuk bisa berupaya mempercepat, artinya Bio Farma masuk ke penelitian lebih awal," ujar Amin.

"Tetapi kami sudah membahas dengan Bio Farma, Bio Farma masuk lebih awal sehingga diharapkan itu bisa menghemat waktu sekitar dua-tiga bulan," tambahnya.

Oleh karena itu, uji klinik vaksin pun diharapkan dapat dilakukan lebih awal. Kemungkinan uji klinis fase satu baru bisa dilakukan pada Mei 2021.

"Sehingga uji klinik bisa dilakukan lebih awal, sebab kalau dengan prosedur yang biasa saat ini mungkin uji klinik fase satu baru bisa dilakukan di bulan Mei tahun 2021. Berarti penyuntikan kepada manusia itu. Tapi mudah-mudahan bisa lebih awal," imbuh Amin.

(rfs/jbr)