Donny Saragih Akan Mengajukan PK, Pengacara: Ini Bukan Pidana

Tim detikcom - detikNews
Senin, 07 Sep 2020 14:51 WIB
Eks Dirut TransJ Donny Saragih Ditangkap
Eks Dirut TransJ Donny Saragih Ditangkap (Dok Istimewa).
Jakarta -

Mantan Dirut TransJakarta Donny Saragih telah dieksekusi terkait kasus pemerasan dan penipuan. Menurut pengacara, kasus yang menimpa kliennya adalah murni masalah perseroan, bukan pidana umum.

"Sebagai warga negara yang baik, tentu beliau sangat hormat kepada proses hukum yang berjalan. Tapi, upaya untuk mendapatkan keadilan klien kami akan terus kita lakukan. Karena sekali lagi, masalah ini adalah murni masalah perseroan terbatas, bukan masalah pidana umum," jelas Muhammad Zakir Rasyidin, salah satu kuasa hukum Donny Saragih dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (7/9/2020).

Menurut Zakir, kliennya tidak melakukan penipuan dan pemerasan di tempatnya bekerja. Menurutnya, dakwaan jaksa sangat tidak logis.

"Dalam dakwaannya, beliau (disebut) menipu dan memeras Dirut PT tempat dia bekerja dengan mengatasnamakan petugas OJK, kan tidak logis, Dirut diperas oleh Direktur Operasional," imbuh Zakir.

Lebih lanjut, Zakir mengatakan pihaknya akan mengajukan peninjauan kembali (PK) atas perkara yang tengah dihadapi oleh Donny Saragih.

"Beliau akan melakukan peninjauan kembali atas perkara yang sedang dihadapi, dan ada banyak fakta yang harus diungkap, agar supaya dosa hukum itu tidak ditumpukkan kepada klien kami sendiri," tandasnya.

Eks Dirut Transjakarta Donny Saragih ditangkap tim kejaksaan, Jumat (4/9), di Apartemen Mediterania, Jakarta Utara. Donny kemudian menjalani masa hukuman di Lapas Salemba.

Untuk diketahui, kasus Donny tercatat dalam perkara 490/Pid.B/2018/PN Jkt.Pst dengan klasifikasi perkara pemerasan dan pengancaman. Donny bersama Porman Tambunan alias Andi Tambunan alias Andi kemudian dituntut 'turut serta melakukan penipuan berlanjut' sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan alternatif ketiga.

Pada 15 Agustus 2018, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menyatakan Donny dan Andi bersalah dan memvonis 1 tahun penjara serta menetapkan agar para terdakwa tetap ditahan dalam tahanan kota. Jaksa penuntut umum Priyo W kemudian mengajukan permohonan banding. Hasilnya, pada 12 Oktober 2018, Pengadilan Tinggi DKI menerima banding JPU dan menguatkan putusannya serta meminta keduanya tetap berada dalam tahanan.

Tak terima, Donny dan Andi kemudian mengajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung. Dalam putusan kasasi nomor 100 K/PID/2019 tertanggal 12 Februari 2019, majelis hakim menolak permohonan kasasi Donny dan Andi. Hakim bahkan menjatuhkan pidana penjara kepada keduanya masing-masing 2 tahun.

(mea/fjp)