Polda Metro Selidiki Laporan Terkait Dugaan Penipuan Bos Jouska

Yogi Ernes - detikNews
Sabtu, 05 Sep 2020 14:38 WIB
Gedung Densus 88 Polda Metro Jaya
Gedung Polda Metro Jaya (Ari Saputra)
Jakarta -

Bos PT Jouska, Aakar Abyasa Fidzuno dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh sejumlah nasabahnya terkait dugaan penipuan. Laporan tersebut saat ini masih diselidiki polisi.

"Soal laporan Jouska itu pelaporan dikuasakan pada kuasa hukumnya yang 10 orang melapor itu. Kemarin memang sudah masuk (laporannya). Kita teliti dulu sekarang," kata Yusri ketika dihubungi wartawan, Sabtu (5/9/2020).

Yusri mengatakan, pihaknya masih mempelajari laporan para nasabah Jouska tersebut. Polisi akan mendalami konstruksi pidana dalam perkara yang dilaporkan itu.

"Ini akan diselidiki. Kita pelajari lagi," imbuh Yusri.

Yusri menambahkan, pihaknya akan meminta keterangan dari pelapor hingga terlapor untuk menyelidiki lebih lanjut terkait kasus tersebut.

"Ke depannya prosesnya akan seperti itu, kita pelajari dari penyidik, kemudian nanti akan ada klarifikasi dari pelapor," papar Yusri.

Seperti diketahui, polemik kasus Jouska berujung pelaporan polisi. 10 Orang nasabah melaporkan bos Jouska Aakar Abyasa Fidzuno akibat tindakan penipuan dan pencucian uang.

Diwakili oleh Advokat Pendamping Korban Jouska, Rinto Wardana, Aakar dilaporkan ke kepolisian atas dugaan pidana penipuan yang dilakukan ke konsumen. Rinto menyebutkan pihaknya juga melaporkan dengan pasal 28 ayat 1 UU ITE nomor 11 tahun 2018 tentang berita bohong dan merugikan konsumen dalam transaksi elektronik.

"Buktinya sudah kami siapkan. Ada juga bukti yang menyebut jika PT Mahesa dan Amarta pengendalinya sama, yaitu Pak Aakar," kata Rinto di Polda Metro Jaya, Kamis (3/9/2020).

Dia menyebutkan kerugian yang dialami oleh klien Jouska ini sudah mencapai angka miliaran. Namun angka pasti masih dalam perhitungan.

Rinto mengatakan Jouska belum ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah dengan klien. Sempat ada penawaran penyelesaian namun klien harus menandatangani klausul kerahasiaan proses penyelesaian.

"Draftnya memberatkan klien atau nasabah, ketika tanda tangan itu nasabah tidak boleh kasih info apapun. Seharusnya kalau ada itikad baik ini kan bukan rahasia lagi. Selain itu Jouska belum diketahui kapan akan menyelesaikan pembayaran secara penuh kerugian nasabah," kata dia.

Kini laporan tersebut telah ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Laporan tersebut tertera dengan nomor LP/5.263/IX/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ tertanggal 3 September 2020.


Penjelasan Bos Jouska


Sebelumnya, CEO PT Jouska Finansial Indonesia (Jouska) Aakar Abyasa Fidzuno menepis tudingan melampaui kewenangan dengan mengelola dana bahkan melakukan transaksi saham klien. Aakar mengatakan, pihaknya tak pernah melakukan transaksi jual beli saham atas nama Jouska.

"Seluruh advisor dan karyawan Jouska tidak mempunyai akses ke rekening dana nasabah, username, password aplikasi trading saham klien. Hanya ada dua pihak yang memiliki akses ke RDN, username dan password yaitu klien itu sendiri dan broker saham," katanya dalam teleconference, Selasa kemarin (1/9/2020).

Dia mengatakan, tuduhan klien bahwa rekening saham diakses dan diperjualbelikan Jouska tidak benar. Menurutnya, yang terjadi ialah saham klien ditransaksikan oleh broker PT Mahesa Strategis Indonesia. Dia bilang, transaksi itu berdasarkan surat kesepakatan bersama antara klien dan Mahesa.

"Yang terjadi adalah broker dalam hal ini di Mahesa mentransaksikan jual beli saham klien atas kesepakatan tertulis surat kuasa dari klien itu sendiri dalam surat kesepakatan bersama antara klien dengan Mahesa bukan dengan Jouska," ujarnya.

Terangnya, Jouska sendiri memiliki tiga izin usaha yakni lembaga pendidikan lainnya, manajemen konsultasi, dan pengelolaan data. Ia melanjutkan, Jouska dan Mahesa merupakan dua entitas yang berbeda serta tidak memiliki perjanjian kerja sama.

"Mahesa adalah semacam klub broker trading berisi broker-broker saham yang berlisensi di mana saya pemegang saham mayoritas artinya mayoritas pasif artinya selama ini saya tidak aktif terlibat operasional Mahesa," terangnya.

(mei/fjp)