Hanya Kemenag Boleh Beri Rekomendasi Kuliah di Al Azhar Mesir, Ini Syaratnya

Erwin Dariyanto - detikNews
Rabu, 02 Sep 2020 20:26 WIB
Kantor Kementerian Agama / Kemenag
Foto: Dok. Kemenag
Jakarta -

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Ali Ramdhani menegaskan bahwa surat rekomendasi untuk santri, pelajar dan mahasiswa yang ingin kuliah di Universitas Al-Azhar hanya bisa dikeluarkan oleh Kemenag. Surat rekomendasi Kemenag RI tersebut juga sekaligus menjadi legalitas calon mahasiswa untuk berangkat ke Mesir.

Dikutip dari laman Kemenag.go.id, penegasan itu disampaikan menyusul adanya sebuah pesantren yang menyebar promosi dengan mengaku bisa memberikan jaminan bagi pelajar yang mondok di tempat mereka untuk belajar dan kuliah di Mesir. "Kemenag sudah bekerjasama dengan Al-Azhar dalam rekrutmen pelajar yang akan sekolah atau mahasiswa yang akan kuliah di sana. Jadi, hanya Kemenag yang berwenang mengeluarkan rekomendasi kepada para santri atau calon mahasiswa yang telah lulus seleksi," kata Ali Ramdhani di Jakarta, Rabu (02/09).

Pria yang akrab disapa Dhani ini mengatakan bahwa Ditjen Pendidikan Islam sudah pernah menerbitkan Surat Edaran Nomor SE/Dj.I/PP.00.9/486/2014 tanggal 27 Februari 2014. Surat Edaran ini mengatur tentang ketentuan untuk mendapatkan rekomendasi bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia yang melanjutkan Studi Islam ke luar negeri.

Pelajar dan calon mahasiswa bisa mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Agama jika memenuhi sejumlah syarat. Adapun persyaratannya adalah:

1. Mengajukan surat permohonan ke Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI;
2. Melampirkan surat keterangan bahwa yang bersangkutan telah terdaftar di lembaga pendidikan luar negeri;
3. Melampirkan surat keterangan KBRI tentang status lembaga pendidikan yang dituju;
4. Melampirkan surat pengantar dari Kemenag tempat domisili (Kabupaten/Kota);
5. Melampirkan biodata lengkap pemohon;
6. Melampirkan ijazah yang telah dilegalisir dan terdaftar di Kementerian Agama atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; dan
7. Melampirkan foto copy paspor.


Kepada masyarakat, Dhani meminta untuk tidak mudah mempercayai jika ada pihak-pihak yang mengaku bisa memberikan jaminan untuk bisa belajar atau kuliah Universitas Al Azhar atau perguruan tinggi lainnya di luar negeri. Perlu juga dicek proses keberangkatannya, apakah dilakukan sesuai prosedur dengan rekomendasi Kemenag atau tidak.

Kementerian Agama sendiri, Dhani melanjutkan, rutin mengadakan seleksi masuk Universitas Al-Azhar. Seleksi itu digelar secara terbuka sehingga bisa diikuti seluruh santri di tanah air. "Mereka yang lulus (seleksi), akan mendapat rekomendasi, baik jalur beasiswa maupun mandiri," kata dia.

Saat ini setidaknya ada kurang lebih 6000 mahasiswa Indonesia yang belajar di Al-Azhar. Dan setiap tahun, minat calon mahasiswa untuk berangkat ke Al-Azhar terus meningkat. Sehingga kemudian Kemenag perlu membuat peraturan yang salah satunya dengan melakukan seleksi untuk diberikan rekomendasi.

Kementerian Agama juga menjalin kerjasama dengan Pusat Bahasa Al-Azhar (Pusiba) Cabang Indonesia dalam menyiapkan kemampuan calon mahasiswa Al Azhar dalam hal penguasaan bahasa. Pusiba dikelola oleh Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Al-Azhar yang dipimpin TGB. M. Zainul Majdi. "Persiapan bahasa calon mahasiswa Indonesia di Al-Azhar dilakukan melalui satu pintu, yaitu di Pusat Bahasa ini, karena langsung berada di bawah supervisi Al-Azhar," papar Dhani.

(erd/pal)