PBNU: Penodaan Al-Qur'an di Norwegia Tak Paham Islam, Jangan Reaktif

Jabbar Ramdhani - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 20:49 WIB
Demo Rusuh di Norwegia Usai Wanita Robek Al-Quran
Demo ricuh di Norwegia yang diwarnai aksi meludahi Al-Qur'an. (20detik)
Jakarta -

Aksi demonstrasi yang diwarnai aksi penistaan terhadap kitab suci agama Islam, Al-Qur'an, terjadi di Swedia dan Norwegia. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat Indonesia tidak terpancing.

"Kalau kemudian timbul kesalahpahaman, lalu ada penodaan dan seterusnya karena mereka tidak paham Islam. Yang sampai kepada mereka adalah gambaran Islam yang lain. Bukan Islam rahmatan lil 'alamin seperti yang kita jalankan di sini," kata Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi, saat dihubungi, Senin (31/8/2020).

"Ini jadi tantangan dakwah kita agar orang di sana mengerti duduk perkara bahwa apa itu Islam. Kalau dalam sudut pandang ini, kita jangan terlalu panas, reaktif terhadap tindakan dan gerakan mereka karena mereka orang yang tidak paham Islam," sambung juru bicara Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin.

Dia mengatakan ada faktor lain sehingga muncul aksi penodaan terhadap Al-Qur'an yang disucikan umat Islam. Dia melihat tindakan tersebut juga tak terlepas dari sikap prasangka dan diskriminatif terhadap Islam dan muslim (islamofobia).

Masduki BaidlowiWasekjen PBNU Masduki Baidlowi (Lisye/detikcom)

"Kedua, kejadian tersebut dipicu gerakan islamofobia, gerakan yang terus diembuskan agar orang tak paham terhadap Islam. Mereka sebagai sebuah jaringan, mereka ada biayanya, ada pihak yang membiayai agar mereka terus membuat banyak orang tak paham terhadap Islam," tuturnya.

Selain itu, dia menduga ada pihak yang memainkan politik identitas setelah ada gelombang imigran dari Timur Tengah. Politik identitas yang anti-Islam terus diembuskan dengan membentuk persepsi Islam sebagai agama kekerasan.

"Ini terjadi sejak perang di Irak saat George Walker Bush dan Tony Blair saat ini mendorong penyerangan terhadap Saddam Hussein yang saat itu disebut punya senjata pemusnah massal yang hingga kini tak terbukti. itulah yang namanya post-truth, kebohongan yang terus diulang agar orang percaya. Hingga akhirnya tentara sekutu datang menyerang Saddam Hussein, Irak luluh lantak, rakyat sengsara," ujarnya.

"Mereka mengungsi ke negara Eropa. Setelah Irak hancur, Suriah hancur, setelah itu Libya hancur. Maka terjadi gelombang migrasi. Ini dipolitisasi politikus Barat agar mereka menolak. Maka dibentuklah frame Islam akan membom, teroris, dan lain-lain," sambungnya.

Dia berharap umat Islam di Indonesia bersikap dewasa dan rasional. Masduki mengatakan situasi ini menjadi tantangan untuk dakwah menyampaikan Islam yang ramah dan moderat. Dia juga berharap tak ada pihak yang menjalankan politik identitas di Indonesia.

Selanjutnya
Halaman
1 2