PT Jakarta Tetap Vonis Mati Aulia Kesuma-Kelvin Otak Pembunuh Pupung-Dana

Andi Saputra - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 12:18 WIB
Tersangka pembunuhan suami-anak tiri, Aulia Kesuma.
Aulia Kesuma (Foto: detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta tetap menjatuhkan hukuman mati kepada Aulia Kesuma dan Geovanni Kelvin Oktavoanus Robert. Keduanya dinyatakan terbukti membunuh Pupung dan Dana secara terencana dan biadab.

Kasus ini bermula saat Aulia terlilit banyak utang yang jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Aulia meminta suaminya Pupung menjual rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Namun Pupung tidak menyetujui hal itu. Karena merasa jengkel, mulailah Aulia menyusun strategi untuk membunuh Pupung beserta anak tirinya Dana. Dengan maksud jika Pupung terbunuh otomatis hartanya untuk Aulia. Rencana pembunuhan itu disusun bersama Kelvin.

Singkat cerita, Aulia menyewa dua pembunuh bayaran yaitu Kusumawanto alias Agus dan Muhammad Nursahid alias Sugeng. Usai dibunuh, kedua jenazah dibuang di Jalan Raya Cidahu, Desa Pondokkaso Tengah, Sukabumi, Jawa Barat. Jenazah terlebih dahulu dibakar pada Agustus 2019.

Belakangan, kasus ini terungkap dan para pelaku diproses. Mereka diadili di PN Jaksel. Pada 15 Juni 2020, PN Jaksel menjatuhkan hukuman mati bagi Aula dan Geovanni karena terbukti melakukan kejahatan pembunuhan berencana.

Atas vonis itu, Aulia Kesuma dan Kelvin mengajukan banding. Apa kata PT Jakarta?

"Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 55/Pid.B/2020/PN Jkt Sel tanggal 15 Juni 2020 yang dimintakan banding tersebut," ujar majelis tinggi sebagaimana dilansir website Mahkamah Agung (MA), Rabu (26/8/2020).

Duduk sebagai ketua majelis Pontas Efendi dengan anggota Artha Theresia dan Sujatmiko. PT Jakarta sependapat dengan pertimbangan PN Jaksel dalam putusannya yang menyatakan bahwa dari fakta-fakta persidangan yang diperoleh dari keterangan saksi-saksi yang dihubungkan dengan keterangan Aulia-Kelvin serta bukti-bukti surat yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan dikaitkan dengan unsur pasal yang didakwakan, Aulia-Kelvin telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan primair melanggar Pasal 340 KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP;

"Menurut pendapat majelis hakim tingkat banding, hukuman telah memenuhi prinsip pemidanaan yang bersifat imperative memaksa dan sekaligus juga bersifat preventif edukatif serta cukup adil dan setimpal dengan perbuatan para terdakwa yang tergolong cukup sadis sebagaimana telah dipertimbangkan dengan baik oleh Majelis Hakim Tingkat Pertama," ujar majelis dalam sidang pada 18 Agustus 2020 lalu.

Versi Pengacara Aulia
Dalam memori bandingnya, pengacara Aulia-Kelvin mengajukan sejumlah alasan, di antaranya:

Bahwa majelis hakim tingkat pertama telah salah dan keliru dalam mempertimbangkan fakta-fakta persidangan maupun penerapan hukumnya dengan memberikan putusan dengan menyatakan para terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana serta menjatuhkan pidana kepada para rerdakwa dengan hukuman mati;

Bahwa hukuman yang diberikan majelis hakim tingkat pertama terhadap para terdakwa sangat tidak tepat dan keliru sehingga menimbulkan ketidak adilan bagi terdakwa I dan terdakwa II;

Di kasus ini, dua eksekutor yaitu Agus dan Sugeng sudah terlebih dahulu dipenjara seumur hidup.

(asp/knv)