Kolom Hikmah

Lubang Sejarah Film Jejak Khilafah

Fitraya Ramadhanny - detikNews
Selasa, 25 Agu 2020 08:07 WIB
faya baru
Foto: istimewa
Jakarta -

Saya penikmat sejarah, makanya sangat tertarik menonton film Jejak Khilafah di Nusantara. Namun, rupanya ada beberapa lubang sejarah di dalamnya.

Tentu saya tahu ini film dokumenter propaganda, makanya santai saja pas Majapahit disebut sebagai 'rezim' dengan framing negatif. Filmnya lebih pendek dari yang saya sangka, cuma 44 menit, kemudian ada yang versi 52 menit. Saya pikir mungkin ada kaitan dengan protes Peter Carey. Saya juga menonton video QnA Nicko Pandawa di Youtube, Blak-blakan detikcom dengan Peter Carey, dan beberapa tulisan Anthony Reid untuk lebih memahami film ini.

Tampaknya film ini memang dipotong saja sampai Ternate. Peter Carey mengatakan sudah diwawancara soal Diponegoro dan Yogyakarta, namun tidak berkenan dipergunakan materinya karena fait a compli. Nicko juga mengakui ada miskomunikasi dengan Peter Carey. Nicko mengatakan film ini dasarnya adalah skripsi dia soal relasi Turki Utsmani dengan Hindia Belanda, namun periodisasinya dibikin lebih mundur sampai ke Samudera Pasai.

Merujuk ke judulnya 'Jejak Khilafah di Nusantara' (JKDN), menurut saya film ini memang ingin menunjukan ada jejak khilafah Abbasiyah Mesir dan Utsmaniyah Turki di Indonesia. Fakta-fakta hubungan Turki dan Aceh itu menarik banget dan tidak terbantahkan.

Masalahnya adalah... sepertinya film ini mau memaksakan narasi lebih dari itu. Film ini ingin bilang bahwa Nusantara adalah bagian dari khilafah dunia. Di sinilah menurut saya, jadi ada lubang-lubang dalam ceritanya.

Hasilnya adalah beberapa hal yang menurut saya jadi tanggung, kalau tidak dibilang mengecewakan. Inilah beberapa lubangnya:

1. Nusantara bukan cuma Indonesia

Nusantara diterjemahkan dalam film JKDN sebagai wilayah Indonesia hari ini. Padahal itu keliru. Nusantara adalah Indonesia + Malaysia + Singapura + Brunei + Vietnam Selatan (Champa) + Thailand Selatan (Patani) + Filipina Selatan (Sulu). Malaysia juga secara resmi mengakui bagian dari Nusantara, misalnya dalam penjelasan di Muzium Negara Malaysia.

Akibatnya, mereka melewatkan fakta penting soal Aceh. Bahwa Aceh dalam periode Samudera Pasai tidak bisa dipisahkan dari wilayah Nusantara di Malaysia.

2. Aceh bukan berdiri sendirian, ada aliansi Imperium Chermin

Film ini membahas Aceh dengan gegap gempita yang brilian yang mampu menjalin koneksi dengan Mesir, India dan Turki. Tapi tidak ada penjelasan lengkap kenapa Aceh hebat banget, isinya hanya kekaguman pembuat film dengan khilafah.

Kalau mau tahu kenapa Aceh hebat banget, ya harus bahas aliansi 3 kerajaan Nusantara yang terikat pernikahan (besanan) yaitu Samudera Pasai, Kelantan dan Champa. Ketiga aliansi ini menciptakan imperium besar dengan mesin politik keluarga kerajaan yang berisi para diplomat ulung, namanya adalah Imperium Chermin seperti ditulis Christopher Buyers di website Royal Ark.

Jadi Sultan Malikuz Zhahir dari Pasai punya kakak ipar Sultan Mahmud Jiddah Riayath Sa'adat us-Salam pemimpin Imperium Chermin di Kelantan yang beripar lagi dengan Sultan Zainal Abidin, Raja Champa. Malikuz Zhahir juga punya adik ipar Sayyid Hussain Jumadil Kubra. Nah, Sultan Mahmud sebagai kakak ipar mengatur politik dari Kelantan. Malikuz Zhahir pegang Pasai untuk hub dagang dengan Mesir, India, Turki. Champa jadi hub dagang dengan China.

Kok bisa punya diplomasi keren sama India dan Timteng? Ya lewat koneksi adik iparnya, Sayyid Hussain Jumadil Kubra, mantan Gubernur Deccan dari kesultanan mughal di India, sekaligus keturunan langsung Nabi Muhammad SAW dari Jafar Sidiq, keluarga para sayyid Hadramaut, sekaligus juga bapak dari para Wali Songo. Jumadil Kubra punya anak namanya Ali Nurul Alam (keponakan Malikuz Zhahir) yang bergelar Patih Arya Gajah Mada karena hubungan dekatnya dengan Maha Patih Gajah Mada dari Majapahit, sekaligus berjuluk Maulana Malik Israil, karena jago diplomasinya menghadapi bangsa Yahudi di Timteng. Timteng, India, Majapahit, China dipegang semua. Begitu lah mesin politik keluarga besar Samudera Pasai.

Kesultanan Aceh yang muncul setelah Samudera Pasai, memoles diplomasi yang dibangun sebelumnya oleh aliansi 3 kerajaan berbesanan ini. Sayang betul cerita ini tidak muncul di film JKDN.

3. Terkesan inferiority complex

Karena ingin memaksakan narasi bahwa kesultanan Nusantara adalah bagian dari kekhalifahan dunia, jadinya tampak seperti minder atau inferiority complex. Menurut saya hubungan kesultanan di Nusantara dengan Mesir atau Turki adalah hubungan diplomasi yang setara, bukan atasan bawahan.

Narasi soal berbaiat itu maksa sih. Kenapa? Karena Nicko dalam film JKDN mengatakan, "Kita bisa menduga kuat, bahwasanya Samudera Pasai juga berbaiat kepada Khalifah Abbasiyah." Jadi itu adalah dugaan. Dasarnya apa? Apa makam Bani Abbasiyah bisa menjadi dasar yang kuat? Dalam kasus lain, di kompleks pemakaman Kesultanan Cirebon di Gunung Jati ada makam China, apakah kita bilang Kesultanan Cirebon berbaiat kepada China. Nggak kan?

Aliansi oke, tapi kalau meminta tunduk, eits nanti dulu. Atau Anda akan berakhir nasibnya seperti utusan Mongol yang dikirim ke Singasari. Bangsa-bangsa di Nusantara, bukan orang-orang yang minder dan silau dengan kekuatan bangsa Mesir atau Turki, bahkan Mongol dan Eropa sekalipun. Bangsa kita tidak selemah itu.

Klaim JKDN lebih mendekati benar ketika masa Kesultanan Aceh di bawah Sultan Alauddin Riayat Syah Al Kahar. Sultan Alauddin di tahun 1566 meminta bantuan kepada Sultan Suleiman The Magnificent karena dalam kondisi berperang dengan Portugis di Malaka, seperti tertulis dalam Bustanus Salatin karya Nuruddin ar Raniry. Tapi meminta bantuan saat perang adalah hal yang lumrah bukan? Apakah ini dikatakan sebagai bentuk tunduk? Tentu ini bisa diperdebatkan.

4. Memandang Majapahit sebagai rezim

Film ini nafsu banget mengatai Majapahit sebagai rezim yang negatif. Padahal, sebagian patih Majapahit adalah muslim. Jadi pada sekitar tahun 1429, Samudera Pasai dipimpin Sultan Zainal Abidin II, saudaranya Kelantan dipimpin Sultan Iskandar Shah. Saat itu sudah ada aliansi antara Imperium Chermin (Pasai-Kelantan-Champa) dengan Imperium Majapahit. Aliansi ini untuk menjaga keutuhan Nusantara dari serangan Siam (Thailand).

Banyak keluarga kesultanan ditarik untuk menjadi patih di Majapahit. Misalnya dari Kelantan yang jadi pejabat di Majapahit adalah Sayyid Ali Nurul Alam, Wan Hussain bin Ali Nurul Alam dan Wan Demali Alimuddin bin Burulalam (Christopher Buyers: Royal Ark). Betul, Majapahit melemah dan penuh korupsi. Andai tidak dibantu patih-patih Muslim ini, mungkin malah hancur lebih cepat. Imperium Chermin saat itu punya nama lain: Majapahit II. Ini menjadi bukti wilayah Majapahit menjangkau seluruh Nusantara.

5. Demak bukan daulah Islam pertama di Jawa

Lubang sejarah lain adalah keliru menyebut Demak sebagai daulah Islam pertama di Jawa. Kesultanan pertama adalah Cirebon, dan itu malah tidak dibahas di dalam film. Meskipun Mesir dan Turki disebut kekhalifahan, secara sistem dia adalah monarki. Kalau mau bicara khilafah tegak di Nusantara, mestinya film ini membahas Kesultanan Cirebon yang didirikan oleh kakak dari menantu Sayyid Hussain Jumadil Kubra, yaitu Pangeran Cakrabuana yang menjadi Sultan Cirebon berkuasa 1447-1479.

Menurut Agus Sunyoto dalam buku Suluk Abdul Jalil, Pangeran Cakrabuana menerapkan pemerintahan khalifah murni seperti sahabat nabi, lepas dari sistem monarki dan meninggalkan istana, dan hidup sederhana di tempat lain. Itu sebabnya Sultan Cirebon selanjutnya bukan keturunannya, tetapi keponakannya Sunan Gunung Jati dan Gunung Jati lalu kembali melanjutkan monarki. Bekas pusat kekhalifahan di Cirebon ini sekarang menjadi daerah Pekalipan (dari kata Perkhalifahan). Kekhalifahan di Cirebon hanya bertahan 2 tahun, apakah model ini tidak cocok atau kenapa? Mestinya ini bisa diteliti.

6. Memasukan Demak ke dalam cerita

Untung film JKDN memasukan Demak. Demak adalah titik untuk mempertanyakan secara kritis apakah model khilafah cocok di Nusantara. Kenapa setelah Demak menggusur Majapahit, Nusantara malah pecah menjadi banyak kerajaan yang lebih kecil? Kenapa tidak ada lagi kerajaan Nusantara yang bisa seluas Majapahit. Apa yang salah dengan Demak sebagai daulah Islam? Itu juga menjadi pertanyaan penting. Peter Carey pun membantah ada relasi Demak dengan Turki Utsmani.

Enam poin ini yang saya rasa jadi lubang sejarah di film JKDN. Jadinya ini seperti cerita versi penggemar khilafah yang bernafsu mencari-cari pijakan historis, tapi klaimnya hanya benar separuh, yaitu di Aceh.

Menurut saya, film ini tidak usah dilarang. Biar saya masyarakat menontonnya dan bertanya-tanya kenapa ada kesan minder, kenapa Majapahit dilihat dengan nada negatif, kenapa bahas Demak dan bukan Cirebon, serta pertanyaan lain yang membuka pintu diskusi yang positif.

Saya sendiri menawarkan, baiknya pembuat film mendalami sosok Sayyid Hussain Jumadil Kubra. Apa perannya dalam mengislamkan ujung barat Nusantara dan membuka jejaring dengan Timteng dan India? Bagaimana juga perannya merancang Wali Songo di Jawa. Soal ini bisa cek beberapa tulisan Martin van Bruinessen atau tulisan tentang sejarah para habib Hadramaut.

Ini akan membuka perspektif lain, bahwa ada sintesa atau gabungan model daulah Islamiyah dan kerajaan Buddha. Kolaborasi Kesultanan Chermin (Pasai-Kelantan-Champa) dengan Majapahit, menurut saya adalah kunci. Bagaimana Gajah Mada yang Buddha dan Patih Arya Gajah Mada (Ali Nurul Alam) yang muslim berbagi kekuasaan Majapahit menjadi dua dan harmonis membentuk Nusantara yang besar. Itulah embrio bangsa kita hari ini yang berbeda, tapi bersatu. Itulah yang harus dicari oleh para sejarawan.

Terakhir, saya membaca publikasi Anthonny Reid berjudul The Ottomans in Southeast Asia, menulis begini, "For Southeast Asian Muslims, the faraway Ottoman dynasty in Turkey represented a dream; a longing for Islamic power at a time of Islamic political decline."

Tampaknya, JKDN adalah bukti bahwa masih ada yang bermimpi seperti itu.

Fitraya Ramadhanny

Editor detikcom dan Penikmat Sejarah

Tulisan ini adalah pandangan pribadi yang tidak mewakili institusi tempat penulis bernaung. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)