Round-Up

Peluru KAMI Serang Prabowo hingga Ungkit Ibu Kota Baru

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 23 Agu 2020 08:30 WIB
Sejumlah tokoh berkumpul di Tugu Proklamasi, Jakarta, untuk mendeklarasikan Koalisi Aksi Meyelamatkan Indonesia (KAMI).
Foto: Sejumlah tokoh berkumpul di Tugu Proklamasi, Jakarta, untuk mendeklarasikan Koalisi Aksi Meyelamatkan Indonesia (KAMI). (Luqman/detikcom)

Jokowi mengatakan lumbung pangan ini disiapkan dalam rangka mengantisipasi krisis pangan dunia. Meski Menhan Prabowo yang menjadi leading sector, Jokowi memastikan Mentan tetap akan terlibat.

Selain Menhan Prabowo, KAMI mengkritik penanganan pemerintah terhadap pandemi virus Corona (COVID-19). Ia menyebut tak ada kejelasan leading sector yang menangani pandemi.

"Dalam keadaan COVID ini kan tidak jelas siapa yang mengambil leading sector antara kementerian/lembaga kan tidak tahu-menahu apa yang harus dilakukan," ujar Ahmad Yani kepada wartawan, Sabtu (22/8/2020).

Lebih lanjut, Ahmad Yani berbicara mengenai isu terkait menteri Kabinet Indonesia Maju yang sempat jadi polemik beberapa waktu lalu. Salah satunya soal kalung anti-Corona yang diluncurkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.

"Apa yang dilakukan oleh Menteri Pertanian kalung Corona itu," kata dia.

KAMI yang merupakan besutan Din Syamsuddin, mengkritisi sejumlah hal yang dikerjakan pemerintah Jokowi-Ma'ruf Amin. Salah satu tuntutannya adalah mengenai penanganan pandemi Corona.

"Dalam mengatasi masalah ekonomi, yang selama ini di Menteri Keuangan, sekarang ditarik lagi ke Menko Ekonomi," tutur Ahmad Yani.KAMI pun mengungkit sejumlah kritiknya kepada pemerintah.

"Apa yang dilakukan? Dari ekonomi, yang infrastruktur tanpa kendali, besar-besaran mengandalkan utang, sehingga beban kita membengkak dan pendapatan kita tidak seimbang. Itu apa yang dimaksud Aria Bima sudah dilakukan? Itulah yang kita persoalkan," ujar Ketua Komite Eksekutif KAMI Ahmad Yani kepada wartawan, Sabtu (22/8/2020).

KAMI juga menyoroti soal masalah impor.Ahmad Yani mengungkit mengenai bertambahnya masyarakat miskin akibat dampak pandemi virus Corona (COVID-19).

"Kedua, banjirnya produk-produk impor ugal-ugalan sehingga menyebabkan ekonomi kita melemah, sehingga pertumbuhan ekonomi -5,32. Impor, utang luar negeri. Terus penduduk miskin bertambah. Penderita kondisi lapar 22 juta lebih ini. Yang mana? Makanya kita bingung apa yang dikemukakan oleh Bima itu," sebutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3