Rekam Jejak Din Syamsuddin: Dulu Siap Jadi Cawapres Jokowi, Kini Motori KAMI

Elza Astari Retaduari - detikNews
Rabu, 19 Agu 2020 12:54 WIB
Fraksi Hanura mengelar seminar dengan melihat Fenomena Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang makin marak dan munculnya wacana dibuat UU yang mengatur soal LGBT di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/3/2016). Salah satu pembicaranya Din Syamsuddin mengatakan bahwa UU soal LGBT belum dibutuhkan saat ini.
Din Syamsuddin. (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta -

Nama Din Syamsuddin kembali mencuat setelah membentuk Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) bersama sejumlah tokoh nasional. Tokoh Muhammadiyah itu memiliki hubungan panas-dingin dengan pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dihimpun detikcom, Rabu (19/8/2020), Din Syamsuddin merupakan putra kelahiran Sumbawa, NTB. Meski kini ia merupakan tokoh Muhammadiyah, bapak 3 anak tersebut saat kecil dibesarkan di lingkungan nahdliyin. Ia pernah mengenyam pendidikan di Podok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur.

Perjalanan karirnya dimulai saat ia menjadi Ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Cabang Sumbawa pada 1970. Ia kemudian menjadi pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pusat pada 1990.

Din menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah pada 1989-1993. Lulusan UIN Jakarta ini pun mulai masuk dunia politik dengan menjadi Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan DPP Golkar pada tahun 1993. Ia pun sempat menjadi Wakil Sekjen DPP Golkar pada era reformasi. Di tahun yang sama, Din Syamsuddin menjadi Wakil Ketua Fraksi Karya Pembangunan MPR RI.

Setelah menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Din lalu naik tingkat dengan diangkat sebagai Wakil Ketua PP Muhammadiyah untuk periode 2000-2005. Di periode setelahnya, Din terpilih menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Ia menjabat sebagai Ketum PP Muhammadiyah untuk 2 periode.

Pada periode 2005-2010, Din juga menjabat Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada 18 Februari 2014, Din ditetapkan sebagai Ketua Umum MUI menggantikan yang meninggal dunia. Pada 2015, ia digantikan KH Ma'ruf Amin sebagai Ketua Umum MUI yang baru.

Din Syamsuddin pun diketahui aktif di berbagai forum muslim internasional. Mulai dari Indonesian Committee on Religions for Peace (IComRP), lalu sebagai Honorary President pada World Conference on Religions for Peace (WCRP), chairman World Peace Forum (WPF), Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), dan sebagainya.

Presiden Joko Widodo pada 2017 menunjuk Din Syamsuddin sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban. Awalnya sempat menolak, Din pun menyanggupinya.

"Semula saya tidak bersedia karena saya sudah menjadi salah satu tokoh agama di 22 negara di Asia, artinya tugas seperti ini sesungguhnya sudah saya turuti, sudah saya penuhi, dan lebih atas nama civil society, bukan negara," ujar Din dalam pidato di Rapat Pleno MUI di Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (25/10/2017).

Din mengatakan Presiden Jokowi sangat mengharapkan kesediaannya membantu penyelesaian masalah-masalah dunia di beberapa negara, seperti Rohingya dan Afganistan. Din menyebut dia bersama Jokowi sempat bertemu sebanyak tiga kali.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Saat menerima Din, Jokowi tampak mengenakan pakaian militer lengkap dengan baret warna hijau.Din Syamsuddin saat menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Saat menerima Din, Jokowi tampak mengenakan pakaian militer lengkap dengan baret warna hijau. (Foto: pool)

"Namun, setelah bertemu tiga kali dengan Presiden Joko Widodo, beliau sangat mengharapkan, terutama ada permintaan dari Indonesia, untuk membantu penyelesaian masalah-masalah dunia yang ada di Afganistan, Rohingya, maka saya menyatakan kebersediaan," kata Din.

Kepada Jokowi, Din memberikan tiga syarat sebelum menyatakan kesediaan menjadi utusan khusus presiden. Syarat pertama yang diberikan Din terkait akademisi pemangku umat Islam yang tetap diperbolehkan kritis terhadap pemerintah. Syarat kedua terkait jabatan barunya, yaitu sebagai utusan khusus presiden, agar difungsikan. Syarat ketiga, Din mengatakan tak akan mengubah dirinya. Dia juga meminta tidak digaji karena niat bekerja untuk bangsa dan negara.

Saat menjadi Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban, Din menginisiasi dan menyelenggarakan Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan Muslim Dunia pada 1-3 Mei 2018 yang digelar di Istana Kepresidenan Bogor.

Pada gelaran tersebut, Din memperkenalkan konsep Islam Moderat (wasathiyah) yang tumbuh dan berkembang di Indonesia pada dunia. Din menjelaskan konsep wasathiyah Islam sebenarnya adalah jalan tengah dalam bermasyarakat dan bernegara. Konsepnya dengan mengedepankan ajaran Islam yang rasional, moderat, toleran, dan bertenggang rasa.

Ada 100 ulama dan cendekiawan muslim ternama dunia yang hadir dalam event tersebut. Presiden Jokowi hadir membuka acara.

Menjelang Pilpres 2019, nama Din Syamsuddin lalu masuk bursa cawapres. Bahkan kelompok relawannya, Jaringan Matahari, mendorong Din Syamsuddin menjadi cawapres Jokowi, yang maju untuk periode keduanya.

"Kami Jaringan Matahari menyampaikan sikap mendorong Din Syamsuddin menjadi cawapres Jokowi. Prof Din Syamsuddin sosok yang lahir di Sumbawa, Din adalah sosok yang membawa Islam dalam wasathiyah. Sebagai tokoh agama, Din adalah tokoh Muhammadiyah, maka sangat penting bagi Pak Jokowi untuk menggandeng Din sebagai wapres di 2019 ini," kata anggota Jaringan Matahari Sutia Budi saat konferensi pers di Bumbu Desa, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Kamis (26/7/2018).

Din Syamsuddin menyatakan tersanjung didukung relawan untuk maju sebagai cawapres. Ia juga menyatakan siap jika diminta mendampingi Jokowi sebagai cawapres di Pilpres 2019.

"Alhamdulillah saya tersanjung, siapa sih yang tidak tersanjung kalau dapat kehormatan. Kalau saya ditanya, saya siap sedia, insyaallah saya siap sedia," kata Din seusai konferensi pers World Peace Forum ke-7 di kantor CDCC, Jalan Brawijaya VII/11, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (26/7/2018).

Simak video 'Din Syamsuddin: Sangat Mungkin Ada yang Gembosi KAMI':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2