Round-Up

Polisi Hilang Miliaran Gegara Janji Masuk Akpol Ternyata Penipuan

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 06:15 WIB
Ilustrasi Penipuan
Foto: Ilustrasi (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Seorang polisi di Kalimantan Selatan (Kalsel) kena tipu berkedok calo yang menjanjikan anak korban masuk Akademi Kepolisian (Akpol). Tak tanggung-tanggung, duit polisi ini hilang sampai miliaran.

Kasus tersebut bermula dari laporan korban ke Polda Kalsel pada 20 Juli 2020. Laporan tersebut langsung ditindaklanjuti oleh Kasubdit 3 Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel Kompol Riza Muttaqien yang memimpin penyelidikan hingga akhirnya dapat menangkap terlapor berinisial IR dan IL.

Korban merupakan anggota Polres Banjarbaru, Aiptu Putu Sudhiwirawan. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel Kombes Sugeng Riyadi dua tersangka IR dan IL ditangkap di Jakarta.

"Menipu korban dengan janji meluluskan seleksi Taruna Akpol," kata Sugeng, seperti dilansir Antara, Kamis (13/8/2020).

Aksi tipu-tipu pelaku ini memanfaatkan seleksi masuk calon Taruna Akpol, saat korban berdinas di Polres Banjarbaru. Ketika itu korban bertemu tersangka IR yang menawarkan jika anak korban bisa lulus masuk polisi.

"Awalnya anak korban ini daftar Akpol 2019 dan gugur di tes akademik. Namun oleh pelaku dijanjikan bisa lulus dengan bayaran Rp 1 miliar karena pelaku punya kenalan di Mabes Polri yaitu tersangka IL," ungkap Sugeng.

Untuk melancarkan aksinya ini, IR mengaku sebagai anggota Polri pangkat Ajun Komisaris Polisi (AKP) dinas di Mabes. Kemudian, dalam pengakuan yang belum diverifikasi, pelaku mengaku kepada korban dia kenal dekat dengan perwira tinggi di bagian SDM Polri, yaitu Brigjen S dan seorang pejabat tinggi lain.

Kemudian uang Rp 1 miliar pun diberikan oleh korban. Namun, ada tambahan uang operasional Rp 200 juta juga diminta pelaku.

Bahkan terakhir, pelaku minta lagi Rp 150 juta. Sehingga total kerugian korban Rp 1,35 miliar dari hasil tipu-tipu tersangka.

"Jadi korban dan anaknya yang mau masuk Akpol ini sempat beberapa kali berangkat ke Semarang karena kata pelaku sudah diterima tinggal masuk pendidikan. Bahkan dijanjikan pula pada pendaftaran tahun 2020 ini bisa lulus. Namun itu semua hanya modus pelaku untuk meyakinkan korban," ujar Sugeng.

Selanjutnya
Halaman
1 2