Peneliti: Harimau Jawa Dijumpai di Hutan Angker Jateng

ADVERTISEMENT

Peneliti: Harimau Jawa Dijumpai di Hutan Angker Jateng

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 13:36 WIB
Foto yang diklaim sebagai harimau Jawa (Dok Peduli Karnivor Jawa)
Foto yang diklaim sebagai harimau Jawa (Foto: dok. Peduli Karnivor Jawa)

Dia mendeskripsikan lokasi habitat Panthera tigris sondaica itu sebagai hutan jati, dengan sedikit titik-titik hutan alam. Hutan alam inilah yang dianggap warga sebagai hutan angker.

"Di situ masih ada ular piton, ada burung merak. Ada babi dan sedikit monyet," kata dia.

Didik Raharyono di hutan yang disebutnya sebagai lokasi perjumpaan dengan harimau Jawa. (YouTube Pengabdian Masyarakat KAGAMA)Didik Raharyono di hutan yang disebutnya sebagai lokasi perjumpaan dengan harimau Jawa. (YouTube Pengabdian Masyarakat KAGAMA)

Namun, di sisi-sisi lainnya, sudah ada lahan yang ditanami jagung dan palawija dengan sistem magersari kepada Perhutani, perusahaan badan usaha milik negara (BUMN). Maka ruang-ruang hidup manusia dan harimau bercampur. Babi sebagai mangsa utama harimau Jawa sering kali merusak tanaman jagung dan palawija.

"Sekarang babi juga diburu warga, apalagi dengan adanya sistem tanaman magersari, maka ketika ada babi, warga pasti memanggil tim pemburu. Padahal babi adalah makanan utama harimau Jawa," tutur Didik.

Dia menyebut hutan tempat harimau Jawa itu berdiam kini menghadapi ancaman ekspansi perusahaan pabrik tertentu. Warga setempat menolak bila hutannya dijadikan tambang. Setidaknya sampai sekarang, hutan angker itu masih bertahan.

Mistisisme harimau

Mistisisme Jawa mengandung ajaran yang esoteris. Dalam pandangan pelaku kebatinan Jawa yang dipahami Didik, harimau dihormati sebagai simbah atau kakek/nenek dalam bahasa Indonesia. Komunitas spiritual ini disebutnya turut menjaga harimau dalam kesunyian.

"Macan adalah simbah," kata Didik yang tengah mengembangkan kajian etnotigrologi ini.

Berdasarkan pengamatannya, komunitas spiritual juga mengembangkan budi daya in-situ, yakni budi daya dengan cara membiarkan satwa tetap hidup lestari di hutan, bukan dengan mengembangbiakkan di kandang atau penangkaran. Tentu saja, caranya misterius. Sekilas, ini terdengar tidak masuk akal.

Harimau Sumatra liar yang diberi nama IDA berada di dalam kerangkeng di kawasan Conservation Respon Unit (CRU) Desa Naca, Trumon Tengah, Aceh Selatan, Provinsi Aceh.Ilustrasi: Harimau Sumatra liar yang diberi nama Ida berada dalam kerangkeng di kawasan Conservation Respon Unit (CRU) Desa Naca, Trumon Tengah, Aceh Selatan, Provinsi Aceh. (Syifa Yulinnas/Antara Foto)

"Mereka paham bahwa tidak ada satu pun spesies yang diciptakan tanpa ada gunanya. Mereka akan mati-matian menjaga, karena ini berkaitan dengan ritualnya, dengan kepercayaannya," kata Didik.

"Teman-teman pegiat spiritualitas mengatakan, ketika harimau Jawa punah, peradaban Jawa hilang," ujarnya.


(dnu/fjp)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT