Kritik Amien Rais ke Jokowi: Politik Belah Bambu hingga Mental Koncoisme

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 08:35 WIB
Amien Rais (Screenshot YouTube Amien Rais Official)
Foto: Amien Rais kembali mengkritik Presiden Jokowi (Screenshot YouTube Amien Rais Official)

Mental 'Koncoisme'

Amien Rais menilai Jokowi hanya mementingkan sebagian kelompok dan abai kepada kelompok lain. Dia mengistilahkan sikap itu sebagai 'koncoisme'. 'Konco' dalam bahasa Jawa berarti teman.

"Sebagai Presiden, seharusnya Pak Jokowi berpikir, bekerja dan terus berusaha agar tidak menjadi pemimpin partisan membela sekitar separuh anak bangsa, tetapi menjauhi, bahkan kelihatan memusuhi, bahkan separuh anak bangsa yang lain," ujar Amien Rais.

"Politik partisan semacam ini tidak bisa tidak, cepat atau lambat membelah bangsa Indonesia. Tidak boleh seorang presiden terjebak pada mentalitas koncoisme," lanjutnya.

Kekuatan Anti-ketuhanan Makin Beringas

Amien Rais menilai Indonesia makin meredup. Amien mengatakan ada kekuatan anti-ketuhanan yang semakin beringas.

"Saya lihat dan cermati bahwa dalam pergaulan antarbangsa, dewasa ini Indonesia yang kita cintai bersama semakin tidak bersinar, malahan menurun, semakin meredup," kata Amien Rais.

"Kekuatan anti-ketuhanan nampak semakin beringas dan berani. Kemanusiaan kita bisa dikatakan cenderung menjadi kemanusiaan agak zalim dan tidak lagi beradab," tambahnya.

Dia menyebut Indonesia bisa hancur bila rezim tidak menghindari politik adu domba. Menurutnya, saat ini rakyat kecil belum merasakan keadilan sosial.

"Persatuan Indonesia semakin goyah karena politik rezim tidak memiliki kesadaran bahwa politik adu domba antarkekuasaan sosial politik dengan harapan rezim penguasa semakin kuat dan stabil justru dapat menghancurkan bangsa seluruhnya," ujar Amien Rais.

"Kerakyatan kita cenderung membuang hikmah serta keunggulan prinsip permufakatan, permusyawaratan, dan perwakilan. Mayoritas rakyat kecil kita belum merasakan keadilan sosial bagi seluruh bangsa tetapi lebih sering menderita kezaliman sosial dari mereka yang berkuasa dan berharta," tambah eks Ketua MPR itu.

Halaman

(azr/dnu)