Round-Up

Ulama Aceh Buka Suara Gegara Pemotongan Sapi Disorot Australia

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 20:02 WIB
Kondisi ratusan ekor sapi milik Pemprov Aceh (Agus Setyadi-detikcom)
Kondisi ratusan ekor sapi milik Pemprov Aceh (Agus Setyadi/detikcom)

Direktur eksekutif Dewan Eksportir Hewan Ternak Australia, Mark Harvey-Sutton mengakui rekaman tersebut sangat 'membuat stress' yang melihatnya dan menunjukkan hewan-hewan yang berasal dari Australia diikat dengan tali dan kemudian lehernya digorok tanpa dibunuh dengan kejutan listrik sebelumnya.

Juru bicara DAWE mengatakan seluruh pengusaha ekspor ternak ke Indonesia sudah dikontak untuk mendapatkan informasi lebih banyak.

"Adalah hal yang tidak tepat untuk memberikan komentar lebih lanjut mengenai masalah yang sedang dalam penyelidikan," kata juru bicara tersebut.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Teungku Faisal Ali, awalnya menjelaskan teknik pemotongan dengan membuat hewan pingsan lebih dulu atau stunning yang dinilai LSM tersebut harusnya dilakukan sebelum penyembelihan sapi di Aceh. Faisal mengatakan MPU telah punya fatwa sendiri soal masalah tersebut.

"Sudah ada fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh tentang penyembelihan dengan metode stunning. Dari berbagai pemaparan dari para ahli, kita menyimpulkan bahwa penyembelihan dengan teknik stunning itu tidak boleh di dalam Islam," kata Faisal Ali, Rabu (12/8).

Fatwa yang dimaksud Faisal adalah fatwa nomor 06 tahun 2013 tentang Stunning, Meracuni, Menembak Hewan dengan Senjata Api dan Kaitannya dengan Halal. Menurutnya, fatwa itu dikeluarkan setelah MPU mendengar kajian dari tenaga kesehatan hewan serta ahli bius.

Menurut Faisal, protes yang dilayangkan LSM di Australia bahwa hewan yang disembelih harus dibius terlebih dulu tidak tepat. Dia menilai hal itu tidak dibenarkan dalam Islam.

"Apa yang dilakukan protes oleh teman-teman di luar negeri (penyembelihan) harus dengan pembiusan itu tidak dibenarkan dalam Islam," ujar pria akrab disapa Lem Faisal ini.

Meski demikian, Faisal menilai proses pemotongan hewan yang dilakukan 'tukang jagal' di Aceh masih kurang memperhatikan adab penyembelihan. Bila proses pemotongan hewan memperhatikan kaedah fikih, jelasnya, protes tersebut tidak bakal terjadi.

"Cuma perilaku orang kita dalam menyembelih juga tidak tepat. Jadi mereka itu yang dari Australia melihat cara penyembelihan yang dilakukan di Aceh akibat tidak memperhatikan keadaban cara menyembelih. Itu saja," jelas Faisal.

Halaman

(rdp/rdp)