Terancamnya Eksistensi Bangunan Era Belanda di Bawah Stasiun Bekasi

Isal Mawardi - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 11:28 WIB
Diduga saluran air zaman Belanda, ditemukan di bawah Stasiun Bekasi.
Diduga saluran air zaman Belanda, ditemukan di bawah Stasiun Bekasi (Foto: dok. istimewa)

Seiring berjalannya waktu, di sekitar Alun-alun dan Stasiun Bekasi dibangun kantor polisi, tempat ibadah, hingga rumah sakit. Stasiun Bekasi pun direnovasi beberapa kali seiring perkembangan zaman. Pemugaran itu menyebabkan sentuhan arsitektur khas Belanda hilang.

"Kayak sekarang-sekarang ini (Stasiun Bekasi) bisa dikatakan nggak ada heritage-nya, nggak ada ciri khas stasiun itu, nggak seperti (Stasiun) Jatinegara dan Jakarta Kota. Sudah banyak terjadi perubahan mengikuti perubahan zaman," kata Ali.

Perubahan fisik Stasiun Bekasi itu hanya terjadi di bagian atas permukaan tanah, sementara peninggalan Belanda di bawah tanah masih utuh. Namun eksistensi cagar budaya yang diduga berumur satu adad ini terancam.

Pasalnya, Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan berencana merombak Stasiun Bekasi dengan proyek double double-track (DDT). Pemasangan tiang-tiang pancang pun mengharuskan tanah Stasiun Bekasi dibor hingga dalam. Bangunan diduga cagar budaya itu berada persis di tengah-tengah besi-besi proyek.

Melihat situasi itu, Pemerintah Kota Bekasi bergerak cepat. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi berserta jajaran telah mengecek ke lokasi untuk memastikan temuan itu. Rahmat menyebut bangunan itu merupakan benda langka.

"Bekasi juga masuk dalam sejarah, seperti Jembatan Sasak yang menghubungkan Alun-alun ke pasar proyek itu adalah sejarah, maka temuan benda ini juga pasti ada nilai sejarahnya. Nantinya akan ditelusuri oleh sejarawan dan Disparbud untuk dipastikan" ujar Rahmat.

Pemkot Bekasi telah melaporkan adanya penemuan itu ke Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Laporan ini tertuang dalam surat Wali Kota Bekasi nomor 556/5048/Disparbud.Bud.

Laporan itu dimaksud agar pekerjaan proyek dihentikan sementara. Hal tersebut guna memberikan waktu kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten agar dapat meneliti bangunan tumpukan bata itu.

Permintaan Pemkot Bekasi pun ditanggapi serius. Pekerjaan proyek di area penemuan dugaan cagar budaya itu dihentikan sementara.

"Untuk sementara revitalisasi di daerah yang diduga tersebut (spot tersebut) dihentikan sementara sampai ada hasil join inspeksi dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya. Tetapi untuk area lain tidak (dihentikan). Pekerjaan tetap berjalan. Demikian," ujar Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jakarta dan Banten, Rode Paulus, yang disampaikan oleh Kepala Humas Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Supandi, Selasa (11/8/2020).

Ketua DPRD Kota Bekasi Choiroman mengatakan bangunan diduga saluran air zaman Belanda tersebut harus dipertahankan dan dijaga karena merupakan warisan budaya. Cagar budaya perlu dilestarikan mengingat bangunan bersejarah bersifat rapuh dan tidak terbarui.

"Pemda perlu mengatur dengan jelas mengenai pemanfaatan cagar budaya yang sifatnya sebagai monumen mati (dead monumen) seperti temuan ini, sekaligus menjaga cagar budaya dari ancaman pembangunan fisik," kata Choiroman.

Kembali ke Ali, ia menyarankan Pemkot Bekasi mengambil sampel tumpukan bata itu. Nantinya, bongkahan batu bata itu dapat dimuseumkan di salah satu sudut Stasiun Bekasi. Hal tersebut guna menjadi edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai sejarah Bekasi.

"Saya (juga) meminta sebagian tetap dipertahankan di bawah, di dalam tanah, walau kondisinya berantakan tapi prinsipnya dipertahankan di (dalam) tanah, supaya jika 100 tahun ke depan ada arkeolog mau melakukan penelitian, itu dia tinggal ngebor di situ sambil penelitian," tandas Ali.

Halaman

(isa/van)