Ketua MPR Ajak Milenial Guncang Dunia Lewat Karya Layaknya TikTok

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 09:57 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyp
Foto: dok MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendorong para mahasiswa dan kalangan muda Indonesia harus bersiap diri menghadapi kompetisi global yang semakin ketat. Salah satunya adalah dengan menyiapkan diri untuk berkolaborasi dan mengelaborasi dengan berbagai pihak bahkan yang tak disukai sekalipun.

Mantan Ketua DPR ini saat mengisi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, kepada para mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, secara virtual dari Ruang Kerja Ketua MPR RI menegaskan, tatkala Amerika Serikat dan China saling berseteru menjadi pioneer di berbagai platform aplikasi, Indonesia tak boleh sekedar menjadi penonton ataupun konsumen.

Selain itu, memiliki bonus demografi yang luar biasa, dengan jumlah pemuda rentang usia 16-30 tahun diperkirakan mencapai lebih dari 64 juta jiwa, seharusnya menjadi modal sosial yang kuat bagi Indonesia untuk mengambil peran dalam percaturan ekonomi dan politik dunia.

Dirinya mencontohkan Mark Zuckerberg yang meluncurkan facebook pada usia 20 tahun, lalu ada Larry Page dan Sergey Brin mengenalkan Google saat berusia 25 tahun. Sementara Zhang Yiming yang berusia 35 tahun, adalah tokoh penting dibalik berdirinya perusahaan ByteDance sebagai induk aplikasi Tik Tok.


"Setelah Nadiem Makarim yang memperkenalkan platform Go-Jek pada usia 27 tahun, dunia masih menunggu lahirnya pemuda lain asal Indonesia yang mampu mengguncang dunia melalui berbagai karya," tutur Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (12/8/2020).


Menurut Bamsoet, karena ketatnya persaingan, contohnya di bidang teknologi informasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan sampai mengeluarkan executive order melarang platform aplikasi milik China, TikTok dan WeChat, beroperasi di Amerika Serikat.

"Presiden Trump menggunakan alasan keamanan nasional sebagai dalih pelarangan. Padahal sebagaimana ramai diberitakan, pelarangan tersebut agar Whatsapp dan juga facebook yang notabene perusahaan milik Amerika Serikat tak kalah saing," ujar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini memaparkan pelarangan TikTok di Amerika Serikat bukan tanpa sebab. Menurut data statistik per 30 Juni 2020, pengguna Tik Tok di Amerika Serikat sudah mencapai 45,6 juta pengguna. Presiden Trump sebelumnya juga sudah menegaskan, agar TikTok dan WeChat bisa beroperasi di Amerika Serikat, mereka harus menjual kedua aplikasi tersebut kepada perusahaan milik Amerika Serikat.

Ini juga menandakan kompetisi dan kolaborasi itu nyata, seperti dua sisi dalam keping mata uang logam. Bahkan sampai mengharuskan presiden dari negara super power turun tangan.

Bamsoet menambahkan jauh sebelumnya, sejak 2009 pemerintah China juga sudah terlebih dahulu melarang berbagai platform aplikasi asal Amerika Serikat, seperti facebook, Google, Twitter, hingga instagram. Dikenal dengan Great Firewall, tak ubahnya seperti Great Wall (Tembok Besar China) dalam menghalau berbagai musuhnya di masa lalu.

"Jika dari platform aplikasi saja, Amerika dan China sudah bersaing secara ketat, apalagi bidang militer dan ekonomi," pungkas Bamsoet.

Tonton video 'Update Global: Kasus Positif Virus Corona Tembus 20 Juta':

[Gambas:Video 20detik]



(ega/ega)