Turah Parthayana soal Nonton Horor: Nggak Tahu Siapa yang Ajak Duluan

Arief Ikhsanudin - detikNews
Senin, 10 Agu 2020 22:13 WIB
Turah Parthayana
Foto: dok.IG/TurahParthayana
Jakarta -

YouTuber Turah Parthayana menyampaikan versi lain soal nonton film horor yang berujung narasi pelecehan seksual. Menurut Turah, bukan dirinya yang mengajak pertama kali nonton film horor.

"JA mengatakan bahwa aku yang ajak duluan untuk menonton film horor, bareng sama Danny. Padahal aku punya chat sama JA, dia yang ajak duluan," ujar Turah dalam video di akun YouTube-nya, seperti dilihat detikcom, Senin (10/8/2020).

Lalu, Turah menampilkan tangkapan layar saling berbalas pesan yang disebut antara dirinya dan JA. Dia juga membacakan pesan yang disebutnya dari JA:

"Mau nonton film nggak."

"Emang di mana?"

"Kamar gue kosong. Tanyain Danny tu, film kemarin."

Berpegang dari tangkapan layar saling berbalas pesan itu, Turah menjelaskan dia tidak memaksa mengajak JA menonton film horor.

"Ya jadi memang saling ngajak menurutku. Bukan akunya yang ngebet banget untuk 'Ayo dong nonton film horor sama aku, yuk'," ujarnya.

Turah menyebut ada tiga kejadian nonton film dan dia membantah ada hal tidak mengenakkan yang terjadi. JA pun disebut Turah menikmati film yang ditonton.

"Nonton film pertama terus break, film kedua, akhirnya dia bilang, 'Minggu depan nonton film lagi yuk, seru anjir'. Dari break juga bikin story (Instagram), dan happy-happy saja selama nonton film horor. Tidak merasa takut atau bagaimana," ucap Turah.

"Yang ngajak duluan untuk nonton film horor itu masih nggak tahu siapa gitu lo. Kemungkinan JA, kemungkinan aku, kemudian Novan atau Danny gitu lo. Karena memang kita saling ngajak aja. Tapi dari statement-nya si JA itu benar-benar aku banget yang ngajak, itu udah salah besar banget," kata Turah.

Diketahui, heboh Turah Parthayana disebut melakukan pelecehan seksual bermula ketika akun Twitter @sandi_sa119 mulai mengungkapkannya. Sandi juga melampirkan surat pernyataan yang ditulis oleh korban berinisial JA, mahasiswi S1 yang sedang berkuliah di Tomsk, Rusia.

Dalam surat itu, dituturkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada 23 November 2019 di kamar sebuah asrama. Selanjutnya, Sandi juga melampirkan rekaman suara JA yang bercerita soal kronologi kejadian itu.

(aik/gbr)