Pemerintah Pantau 83.624 Suspek Corona pada 8 Agustus

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2020 15:55 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Pemerintah terus memperbarui laporan terkait virus Corona (COVID-19) di Indonesia. Per 8 Agustus, sebanyak 83 ribuan suspek Corona dipantau oleh pemerintah.

Dari data yang dilaporkan dalam situs covid19.go.id, pada Sabtu (8/8/2020), pemerintah memantau sebanyak 83.624 suspek Corona. Data tersebut disampaikan oleh pemerintah secara berkala setiap hari dengan cut off pukul 12.00 WIB.

Kemudian pemerintah juga memeriksa 30.565 spesimen pada hari ini. Dari pemeriksaan spesimen tersebut, didapatkan data tambahan konfirmasi Corona sebanyak 2.277 sehingga total menjadi 123.503 orang.

Selain itu, pemerintah menyampaikan tambahan pasien sembuh sebanyak 1.749 orang sehingga total pasien sembuh dari Corona ada 79.306. Sementara itu, pasien yang meninggal karena Corona juga bertambah 65 orang sehingga total sebanyak 5.658.

Istilah 'suspek' tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Tidak ada lagi istilah pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP), maupun orang tanpa gejala (OTG).

Berdasarkan Kepmenkes tersebut, berikut ini definisi kasus suspek:

a. Orang dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.

b. Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable COVID-19.

c. Orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

"Kita menyebutkan kasus suspek apabila ada kriteria sebagai berikut, salah satu di antaranya, pertama, orang dengan ISPA yang akut dan dalam 14 hari terakhir sebelum timbulnya gejala ini dia melaksanakan perjalanan atau tinggal di daerah di mana dilaporkan transmisi lokal terjadi," jelas juru bicara pemerintah terkait penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, kala itu dalam jumpa pers yang disiarkan di YouTube BNPB, Rabu (15/7).

(maa/hri)