Dukungan Kotak Kosong di Solo Muncul karena Anggapan Dinasti Politik yang Buruk

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2020 09:02 WIB
Gibran Rakabuming dan Teguh kompak berkemeja menunggangi banteng
Gibran Rakabuming dan Teguh kompak berkemeja menunggangi banteng. (Bayu Ardi/detikcom)
Solo -

Gerakan mendukung kotak kosong di Pilkada Solo melawan Gibran Rakabuming mengalir deras. Pengamat politik Rico Marbun menilai dukungan kepada kotak kosong itu karena anggapan masyarakat adanya dinasti politik yang buruk.

"Di pra-pendaftaran pertarungan elite sesungguhnya itu di situ karena yang bertarung di situ bukan person tapi elite kekuatan oligarki, kekuatan keluarga. Situasi yang pertama ini yang membuat orang memandang bahwa Gibran ini maju memang dengan kekuatan nama besar keluarganya," kata Rico ketika dihubungi, Jumat (7/8/2020).

Rico mengatakan Gibran perlu membuktikan kekuatan sendiri tanpa embel-embel nama besar ayahnya, Jokowi, di pertarungan pada tahap pasca-pendaftaran. Gibran dianggap harus bisa memperoleh kemenangan telak atas kotak kosong.

"Gibran harus buktikan di bagian kedua ini, suara dia itu adalah hasil jerih payahnya. Jadi janganlah misalnya nanti antara Gibran dengan kotak kosong itu 55 lawan 45 gitu itu kan terlalu tipis atau misalnya 63 lawan 47," imbuh Rico.

"Jadi harus menang mayoritas harus menang di atas 80 sampai 90 persen supaya menunjukkan kalau dia menang karena kekuatannya sendiri," tandasnya.

Tonton juga 'Aktivis Solo Kampanyekan 'Kotak Kosong' untuk Lawan Gibran-Teguh':

[Gambas:Video 20detik]

Seperti diketahui, Gibran dan pasangannya, Teguh Prakosa, mengantongi dukungan 'gajah' di Pilkada Solo. Selain PDIP dan PAN, ada Golkar dan Gerindra, yang juga mendukung Gibran-Teguh.

Dengan peta politik seperti itu, praktis hanya PKS yang akan menjadi oposisi. Di Solo, PKS hanya memiliki 5 kursi di DPRD, sehingga masih kurang 4 kursi lagi untuk bisa mengusung calon.

Jadi, kemungkinan besar Gibran bakal melawan kotak kosong. Gerakan mendukung kotak kosong melawan Gibran mulai masif disuarakan. Penggagasnya disebut mulai dari tokoh kampus, pemerhati kota, seniman, hingga budayawan.

(isa/eva)