Islam dan Trend Globalisme (2)

Globalisasi Sebagai Rahmatan Lil 'Alamin

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA - detikNews
Sabtu, 08 Agu 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/Nasaruddin Umar
Jakarta -

Trend dan prediksi Al-Qur'an dan hadis tentang globalisasi amat jelas: Sebuah tantangan yang harus dihadapi dengan penuh persiapan. Salah satu misi Nabi Muhammad Saw ialah untuk mentransformasikan umat manusia dari kungkungan fanatisme primordial (qabiliyyah) menuju masyarakat global (ummah). Dengan demikian, globalisasi menjadi salah satu konsekwensi dan tantangan yang harus dihadapi. Islam sebagai system nilai yang berobsesi untuk mewujudkan rahmat dan kasih sayang untuk semesta alam (rahmatan lil-'alamin). Nilai-nilai ajaran Islam, selain harus melintasi batas-batas geografis juga harus lapis-lapis kultural.

Nabi Muhammad Saw begitu optimis memperkenalkan Islam sebagai sistem nilai terbuka. Banyak langkah yang ditempuh Nabi untuk menyiapkan pangkalan pendaratan Islam sebagai agama global. Di antaranya, Nabi pernah menyerukan: "Tuntutlah ilmu sampai ke tanah China". Walaupun di sana belum ada muslim tetapi saat itu negeri Cina sudah mengenal peradaban tinggi. Nabi juga mengirim beberapa tiem ekspedisi ke negara-negara Eropa. Nabi aktif berkorespondensi dengan pusat-pusat kerajaan Superpower, seperti Kerajaan Romawi-Bizantium di Barat dan Kerajaan Persia sekarang Iran. Nabi juga pernah menegaskan: Hikmah atau kebenaran ada di mana-mana, maka ambillah karena itu milik Islam. Nabi juga mengharuskan umatnya, tanpa membdakan kelas dan jenis kelamin untuk menuntut ilmu: "Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim". Banyak lagi kebijakan Nabi yang bisa dimaknai penyiapan umat untuk menyongsong masyarakat global.

Baca juga: Ibn Arabi

Ketika Tawanan Perang Badar diberikan kebebasan bersyarat oleh Nabi berupa kewajiban mengajarkan keterampilan kepada penduduk Madinah, maka yang ikut di dalam kelas-kelas keterampilan itu bukan hanya umat Islam tetapi juga orang-orang Madinah secara umum, baik yang beragama Islam maupun yang beragama lain. Pilihan-pilihan keterampilan itu antara lain, keterampilan merias pengantin atau salon dan menyamak kulit untuk perempuan. Sedangkan kaum laki-laki disediakan kelas keterampilan membuat senjata, tukang besi, tukang kayu, tukang batu, dan keterampilan khusus lainnya.

Dari kisah tersebut juga difahami bahwa, orang-orang non-muslim sama-sana terlibat secara aktif, baik sebagai murid maupun sebagai guru. Nabi dan para sahabatnya juga tidak mempersoalkan belajar besama antara umat muslim dan non-muslim dalam satu subyek. Demikian pula Nabi dan para sahabatnya tidak pernah mempersoalkan apa agama guru-guru yang mengajarkan keterampilan itu. Yang pasti di balik menjalani hubungan damai ini serta-merta umat-umat agama lain memilih agama Islam sebagai agama barunya dengan senang hati tanpa sedikit pun paksaan.

Dalam Islam sendiri sudah ditegaskan bahwa keberadaan multi etnik dan agama tidak mesti dipahami sebagai sebuah ancaman. Sebaliknya Islam menganggapnya sebagai sebuah kekayaan yang bisa mendatangkan berbagai berkah. Banyak ayat menegaskan hal ini, di antaranya ialah: "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan". (Q.S. al-Maidah/5:48).

Untuk umat Nabi Muhammad Saw tidak perlu khawatir menghadapi globalisasi karena Islam memang ditakdirkan menjadi agama untuk akhir zaman dengan segala konsekuensinya. Sebaliknya untuk non-muslim juga tidak perlu khawatir jika Islam menjadi agama besar di dalam suatu negeri, karena Nabi menjamin dengan doktrin ajaran Islam, seperti yang pernah ditegaskan oleh beliau dalam sebuah hadis shahih riwayat Safwan ibn Sulaiman: "Barang siapa yang mendhalimi orang-orang yang menjalin perjanjian damai (mu'ahhad) atau melecehkan mereka, atau membebaninya sesuatu di luar kesanggupannya, atau mengambil hartanya tanpa persetujuannya, maka saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian" (HR. Bukhari-Muslim). Sebagai warga bangsa Indonesia yang ditakdirkan menjadi negara majemuk dan plural, globalisasi harus dianggap sebagai sebuah rahmat Tuhan
Yang Maha Kuasa. Kenyataan ini bisa menjadi asset bangsa, meskipun juga bisa menjadi sumber ancaman jika salah dalam mengelolanya. Tugas kita sebagai warga bangsa bagaimana mengelola kemajemukan etnik dan agama sebaga sebuah kekayaan bangsa.

(nwy/nwy)