Mengenal Strategi Coping untuk Kendalikan Moral Panic Saat Pandemi

Faidah Umu Safuroh - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 18:03 WIB
BKKBN
Foto: dok. BKKBN
Jakarta -

Masuknya wabah COVID-19 ke Indonesia pada awal Maret 2020 membuat masyarakat panik. Tak sedikit masyarakat melakukan panic buying, membeli barang-barang keseharian dan kesehatan dalam jumlah besar-besaran. Akibatnya barang-barang tersebut menjadi langka dan terjadi kenaikan harga. Kondisi ini sering juga disebut kepanikan moral.

Tim Dosen Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Universitas Negeri Jakarta, Uswatun Hasanah bersama Elmanora, Vania Zulfa, Mirdat Silitonga, dalam penelitian mereka menyebutkan istilah kepanikan moral diadopsi dari Cohen (1972) dalam buku yang berjudul 'Folk Devils and Moral Panic: The Creation of the Mods and Rockers'.

"Menurut Cohen, kepanikan moral adalah ketakutan yang menyebar dalam sejumlah besar orang bahwa kejahatan mengancam ketertiban umum. Kepanikan moral terjadi ketika terdapat ancaman pada kondisi, situasi, orang, atau sekelompok orang, yang mengancam nilai-nilai atau kepentingan masyarakat," ungkap Uswatun dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2020).

Banyak orang atau keluarga yang mengalami ketakutan terpapar virus yang sudah menyebabkan kematian lebih dari 5.000 masyarakat Indonesia dalam kurun waktu lima bulan ini. Terlebih saat ini jumlah kasus masih terus menunjukkan peningkatan dan vaksin virus pun belum juga ditemukan.

"Menurut Wang dalam penelitiannya juga menyebutkan keadaan darurat kesehatan masyarakat ini telah menyebabkan berbagai masalah psikologis, seperti gangguan panik, kecemasan, dan depresi," tambahnya.

Uswatun menyatakan kekhawatiran terpapar virus COVID-19 ini memang hal yang manusiawi. Namun, jika akhirnya menyebabkan kepanikan moral, maka kepanikan akan membahayakan kehidupan sosial.

"Banyak contoh terjadi di masyarakat sebagai akibat dari kepanikan moral, seperti mengisolasi anggota masyarakat di mana satu anggota keluarga terkena dampak dan/atau meninggal karena COVID-19, dan beberapa bahkan menolak pemakaman korban yang meninggal karena COVID-19," papar Uswatun.

Dalam mengatasi kepanikan, lanjutnya, setiap keluarga dituntut untuk berkonsentrasi dalam menyelesaikan berbagai masalah yang muncul. Ostlund & Persson dalam jurnalnya menjelaskan keluarga perlu mengembangkan strategi adaptasi yang memadai yang disebut strategi coping untuk mengatasi masalah.

"Studi mengenai strategi coping ini didukung oleh Friedman (1998), yang mengatakan bahwa strategi coping keluarga adalah respons positif yang digunakan keluarga untuk memecahkan masalah atau mengurangi stres yang disebabkan oleh peristiwa tertentu," tuturnya.

Uswatun menambahkan strategi coping yang harus dilakukan oleh individu untuk menghindari kepanikan adalah dengan melakukan perencanaan yang sistematis dan terukur, mencari dukungan sosial dari lingkungan terdekat, menghadapi masalah secara bertanggung jawab, dan yang paling penting, memiliki penilaian positif terhadap masalah yang terjadi khususnya dalam menangani pandemi COVID-19.

"Respons yang harus dihindari dalam berurusan dengan COVID-19 adalah menghadapinya secara agresif, seperti panic buying, penyebaran berita yang berlebihan, dan ketakutan yang tidak masuk akal terhadap tenaga medis dan keluarga pasien COVID-19 (coronaphobia)," tukasnya.

Selama masa pandemi, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) gencar menyelenggarakan berbagai kegiatan virtual untuk meningkatkan pembinaan dan kesejahteraan keluarga serta mengoptimalkan fungsi keluarga khususnya dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini.

Salah satunya ialah webinar 'Peran Perempuan dalam Membangun Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi'. Menurut survey BKKBN, di masa pandemi keluarga Indonesia sebanyak 99% mengatakan saling mendukung anggota keluarga, menghindari pertengkaran sebanyak 98,1%, dan menerima kondisi pandemi sebesar (sabar) 97,7%.

Selain itu, sebanyak 97% keluarga mengaku tetap bersyukur atas anugerah Tuhan saat bencana COVID-19 ini terjadi. Survei yang dilakukan oleh BKKBN ini dapat menjadi acuan bersama untuk terus memupuk fungsi keluarga dengan sebaik-baiknya sehingga dapat melewati pandemi ini dengan sebaik mungkin.

"Masa pandemi ini secara tidak langsung dapat menjadi momentum penting dalam menguatkan kembali fungsi keluarga sehingga menguatkan coping keluarga itu sendiri," ujarnya.

Uswatun juga menerangkan strategi yang harus dikembangkan keluarga dalam masalah COVID-19 ini adalah dengan melindungi kesehatan mental dan menjaga diri dari kepanikan. Caranya bisa dengan memperhatikan kesehatan seperti makan makanan sehat dan bergizi, berolahraga secara teratur, cukup tidur dan menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan.

"Keluarga dapat menghabiskan waktu berkualitas serta melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama keluarga, seperti bermain atau memasak bersama sambil menjaga kualitas komunikasi selama karantina," ucap Uswatun.

Dalam hal komunikasi selama pandemi, tambah dia, keluarga juga bisa memanfaatkan teknologi sebagai alat komunikasi, seperti mengirim pesan dan melakukan panggilan video agar keramahtamahan tetap terjaga.

"Sedangkan untuk menjaga kesehatan mental bisa dimulai dari membatasi informasi yang terkait dengan COVID-19 dan memperkuat ibadah dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan," pungkasnya.

(akn/ega)