Saran Parpol Koalisi Usai Ekonomi RI Minus 5,3%

Mochamad Zhacky - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 21:38 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32% pada kuartal II-2020. Sejumlah pentolan parpol koalisi memberi saran agar ekonomi Indonesia tidak makin terperosok.

Anggota Komisi XI dari Fraksi PDIP, Hendrawan Supratikno, meminta pemerintah mengakselerasi program-program yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat. Hendrawan menyakini akan muncul kebijakan yang rasional dari pemerintah. Dia menyarankan agar pemerintah mengakselerasi program yang membuka ruang pekerjaan.

"Dalam kondisi sulit, kebijakan-kebijakan yang rasional dan objektif biasanya akan muncul. Ini akan mendorong lahirnya perubahan-perubahan yang lebih sesuai dengan prakondisi dan tuntutan masyarakat maju," tutur Hendrawan.

"Akselerasi program-program pro kesempatan kerja dan peningkatan daya beli masyarakat," imbuhnya.

Sementara itu, Partai NasDem menyarankan agar pemerintah memberikan insentif ke UMKM. Pemerintah diminta memperbanyak program padat karya.

"Menurut saya, yang paling pokok adalah memperbanyak proyek padat karya. Misalnya, infrastruktur kita dikerjakan dengan melibatkan lebih banyak pekerja, bantuan sosial, atau sekalian BLT, bantuan terhadap UMKM serta industri-industri yang padat karya," kata Ketua DPP NasDem Martin Manurung.

Bendum Golkar, Dito Ganinduto mengusulkan agar anggaran pemerintah dibelanjakan untuk membeli produk dalam negeri. Kalau pun ingin impor, saran Dito lagi, sebaiknya dilakukan tahun berikutnya.

"Untuk yang besar-besar itu, anggaran yang besar-besar, kaya pendidikan, TNI, kepolisian, kesehatan, semua gunakan semaksimal mungkin produk dalam negeri. Jadi di-spending-nya di dalam negeri, dibelanjakan di dalam negeri," ungkap Dito.

Sebelumnya, Badan Pusat Statitsik (BPS) telah mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun ini. Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 tercatat -5,32%, angka ini lebih dalam dibandingkan prediksi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebesar 5,08%.

"Sumber PE Indonesia kontraksi 5,32% yang menyebabkan tertinggi adalah konsumsi RT, yaitu 2,96%, diikuti PMTB (Pembentukan Tetap Modal Bruto) 2,73%, ke depan ekonomi kita dipengaruhi konsumsi bagaimana kedua komponen ini lebih bergerak baik," kata Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8).

(zak/imk)