Cerita Ahok Disangka Gendeng Gegara Pilih Pilgub DKI Dibanding Babel

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 17:27 WIB
Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok meluncurkan buku Panggil Saya BTP di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (17/2/2020).
Basuki Tjahja Purnama (Ahok) (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahja Purnama (BTP atau Ahok) menceritakan saat dia maju pada Pilkada DKI Jakarta. Dia menyebut banyak pihak yang memintanya maju di Pilkada Bangka Belitung, bukan di Ibu Kota.

"Saya kadang-kadang ketawa juga, waktu saya putuskan jadi Gubernur di DKI tidak pulang ke Babel, kok kamu nggak bilang saya memanfaatkan firman Tuhan? Sehingga saya ditanya orang, kok kamu gendeng ya? DKI nggak jelas bagaimana kamu mau ke DKI di Babel surveinya bisa menang 60 persen," kata Ahok dalam 'ISO-LATE Show 'A Conversation With BTP' yang dipandu Grace Tahir dan disiarkan live melalui akun Instagram @gthirs, Rabu (5/8/2020).

Ahok mengatakan dia memutuskan pilihannya setelah membaca Al-Kitab. Ahok juga terinspirasi padi kisah Paulus yang naik banding untuk ke Roma.

"Kenapa? Saya bilang saya membaca kitab saya tiap hari, pas hari itu membaca tentang kisah para rasul ketika Paulus naik banding di kirim ke Roma. Nah, saya waktu baca itu seolah-olah iluminasi kepada saya. Kalau kamu mau jadi showcase, mempertontonkan kepada rakyat pejabat itu tidak buruk, politik itu tidak buruk," katanya.

"Pejabat itu, politisi itu adalah memikirkan kesejahteraan rakyat. Makanya kamu butuhnya di Ibu Kota, di pusat pemerintahan, kayak Paulus naik banding ke Roma. Jadi saya mendapatkan saya mesti ke Jakarta, dong, ini pertanyaan mana mungkin kamu ke Jakarta kan secara politik gendeng gitu ya," sambungnya.

Tonton video 'Ahok: Siapapun Korupsi di Pertamina, Kami Lacak Anda!':

[Gambas:Video 20detik]



Ahok mengatakan ada tiga hal yang dia hadapi saat memutuskan maju pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Pertama tentang visi yang dia miliki, kedua pandangan dari rekannya yang saat itu masih menjadi anggota Partai Gokar, ketiga adalah mempertimbangkan untung dan rugi penjadi pemimpin.

"Saya ada alat ukur bagi saya, ketika mendapatkan visi sesuatu saya bertanya iya apa tidak? Pertama biasanya tidak masuk akal, kalau visi sesuatu yang luar biasa, kedua kalau saya cerita sama orang, memalukan, diketawain orang lah. 'Lu gila apa?' teman-teman partai saya Golkar 'Ngaca lu, Hok, ngaca lu, bagaimana jadi Gubernur DKI' itu melakukan kalau saya cerita. Yang ketiga menakutkan, merugikan saya," katanya.

Ahok kemudian merasa bisa melewati tiga hal tersebut. Dia mengatakan ikut pemilihan umum itu adalah kehendak Tuhan.

"Saya tahu ni kalau tiga ini terpenuhi unsur itu bukan keinginan pribadi saya, ini ada satu rencana Tuhan dalam hidup saya, lalu ada satu yang lebih penting dari itu semua adalah apakah semua yang saya inginkan ketika saya laksanakan ini akan melanggar 10 hukum Allah. Apa 10 hukum Allah, itu tadi," jelasnya.

Ahok diketahui pernah dua kali mengikuti Pilkada DKI Jakarta. Pertama pada 2012 menjadi calon Wakil Gubernur, kedua pada 2017 sebagai calon Gubernur.

(lir/imk)