Studi: Pekerja Lepas-UMKM Sumbang Rp 889 M ke Ekonomi Bali

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 21:17 WIB
Merchant GrabFood
Foto: Dok. Grab Indonesia
Jakarta -

Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Tenggara Strategics merilis studi yang menemukan bahwa pekerja lepas dan UMKM di Bali dalam platform Grab berkontribusi sebesar Rp 889 miliar bagi perekonomian Bali. Studi yang dilakukan pada bulan Januari 2020 itu juga menyebut gig economy yang didukung oleh teknologi Grab memberi dampak bagi ketahanan ekonomi kota Denpasar.

Mitra dan agen Grab yang disurvei menyatakan Grab tidak hanya menawarkan peluang ekonomi yang lebih baik bagi pekerja informal (yang merupakan 56,5% dari total tenaga kerja Indonesia), tetapi meningkatkan pertumbuhan bisnis kecil dan menciptakan lapangan pekerjaan di luar platform Grab, serta meningkatkan kualitas hidup mereka sebesar 17%.

Senior Economist Tenggara Strategics, Lionel Priyadi mengungkapkan saat Bali mulai beradaptasi untuk menyambut era new normal, pihaknya percaya bahwa platform seperti Grab dan sektor gig economy dapat mendukung Indonesia dalam perjalanannya menuju pemulihan ekonomi.

"Kesiapan secara digital akan menjadi lebih penting dalam era new normal. Pada akhirnya, meskipun masih ada banyak ketidakpastian ekonomi di waktu yang akan datang, kami percaya gig economy akan memainkan peran penting dalam membantu mempertahankan mata pencaharian," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (4/8/2020).

Head of East Indonesia Grab Indonesia, Halim Wijaya mengatakan sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia, 52% pendapatan ekonomi Bali disumbang oleh sektor pariwisata. Sektor ini memastikan banyak UMKM dan pekerja lepas bermunculan dan bertumbuh di Bali pada beberapa tahun terakhir, termasuk sektor kerajinan, kuliner dan busana.

Saat pandemi menyerang, kedua sektor ini menjadi lesu. Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali yang mencatat penurunan jumlah wisatawan sebesar 88,9% pada bulan Mei 2020. Padahal, kata dia, UMKM dan pekerja lepas telah menyumbangkan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi Bali.

"Jika kita berkaca pada tahun 2019, riset Tenggara dan CSIS menunjukkan kontribusi ekonomi kedua sektor ini sangat signifikan," ujar Halim.

"Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak terhadap digitalisasi, baik dari sisi pemberian pelatihan dan penyediaan platform teknologi agar lebih banyak UMKM di Bali yang bisa merangkul digitalisasi dan bertahan di era new normal ini," imbuhnya.

Berbarengan dengan rilis studi yang dilakukan CSIS dan Tenggara Strategics, Grab meluncurkan program digitalisasi #TerusUsaha buat UMKM di Bali. Kata Halim, digitalisasi menjadi sebuah hal yang mendesak, mengingat perubahan perilaku konsumen yang tengah terjadi, sekaligus manfaatnya untuk menghemat waktu dan biaya operasional.

"Program #TerusUsaha yang kami hadirkan di Bali bertujuan mendukung percepatan digitalisasi UMKM melalui rangkaian pelatihan dan pemanfaatan teknologi yang sejalan dengan komitmen jangka panjang GrabForGood. Kami berharap pelaku industri pariwisata dan UMKM di Bali bisa bangkit dan siap menyambut siklus bisnis baru di era new normal ini dengan teknologi," jelasnya.

(prf/ega)