Djoko Tjandra Ditangkap, PBNU: Menunjukkan ke Publik Polri Serius

Audrey Santoso - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 21:23 WIB
Marsudi Syuhud
Foto: Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud (Dikhy Sasra/detikcom)
Jakarta -

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyambut baik tindakan Polri menangkap buronan kasus cessie Bank Bali, Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. PBNU mengatakan sudah sepantasnya Polri memproses dengan tegas Djoko Tjandra yang sudah buron selama 11 tahun.

"Ya baik (penangkapan Djoko Tjandra), karena hukum harus ditegakkan, apalgi 11 tahun sudah menjadi buronan. baru tahun ini Presiden bersama penegak hukum melakukan (penangkapan). Mudah-mudahan ini ke depan terus lebih baik lagi," kata Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud di Jakarta (3/8/2020).

Marsudi melihat upaya Polri di kasus Djoko Tjandra layak diapresiasi. Dia memandang Polri telah menunjukkan ke publik soal keseriusannya memburu para buronan.

"Sebagai orang awam hukum saya apresiasi, ini menunjukkan ke publik bahwa Polri serius bekerja memburu para buronan," demikian ucap Marsudi.

Sebagaimana diketahui saat ini Djoko Tjandra menghuni sel nomor 1 Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Djoko Tjandra pada Kamis (30/7), ditangkap tim khusus Bareskrim Polri yang dipimpin langsung oleh Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo di Malaysia, dengan bantuan Polisi Diraja Malaysia (PDRM).

Djoko Tjandra diamankan di unit 20-A, apartemen mewah The Avare Condominium, Kuala Lumpur. Usai ditangkap, Djoko Tjandra langsung dibawa ke Indonesia dengan pesawat dan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma jelang tengah malam.

Dalam pusaran Djoko Tjandra, pengacaranya yang mengurus peninjauan kembali (PK) perkara cessie Bank Bali, Anita Kolopaking dan mantan Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri, Brigjen Prasetijo Utomo juga ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri.

Anita dan Brigjen Prasetijo diduga terlibat dalam persiapan dokumen pelarian Djoko Tjandra. Selain itu Kapolri Jenderal Idham Azis juga telah mencopot dua jenderal di Divisi Hubungan Internasional Polri yaitu mantan Kadiv Hubungan Internasional Irjen Napoleon Bonaparte dan mantan Ses NCB Interpol di Indonesia Brigjen Nugroho Wibowo terkait red notice Djoko Tjandra yang tarhapus di sistem Interpol.

(aud/fjp)